Rabu, 30 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #14: Energi Terbarukan, Listrik dan Dampaknya

Energi Berkeadilan #14: Energi Terbarukan, Listrik dan Dampaknya



Gambar 1. Area PLTS Terpusat Pekon Siring Gading

Listrik adalah hal yang biasa bagi masyarakat perkotaan, walaupun di beberapa wilayah, listriknya byarpet (baca: sering terjadi pemutusan listrik) dengan berbagai penyebab. Bagi masyarakat pedalaman, listrik adalah suatu kemewahan. Listrik adalah sesuatu yang sangat langka. Sebelum ada listrik, langit malam mereka dihiasi oleh kerlap-kerlip bintang serta cahaya rembulan. Indah memang, tentunya ketika awan tidak menghiasi langit malam. Di beberapa rumah masyarakat pedalaman, penerangan yang menjadi andalan adalah lampu berbahan bakar minyak. Di beberapa wilayah pedalaman, beberapa rumah menggunakan genset atau Solar Home System sebagai sumber penerangan pada malam hari. Namun, listrik tersebut sangat terbatas dengan masing-masing kendala. Genset biasanya terkendala oleh ketersediaan bahan bakar. Sementara itu, Solar Home System terkendala oleh penggunaan dan perawatan yang kurang baik sehingga mudah sekali mengalami kerusakan.

Listrik yang berasal dari energi terbarukan adalah hal yang akrab bagi masyarakat pedalaman. Hal itu karena karakter pedalaman yang susah mendapatkan jaringan listrik PLN, sehingga harus ada pembangkit listrik mandiri yang ada di lingkungan masyarakat pedalaman. Energi terbarukan adalah salah satu solusinya. Pembangkit listrik yang berbasis energi terbarukan memiliki karakter yang portable. Maksud dari portable ini adalah bisa dibangkitkan dimana saja asalkan sumber energi tersebut ada. Salah satu jenis pembangkit energi terbarukan tersebut adalah pembangkit listrik yang berbasis energi surya, seperti Solar Home System dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat.

Kehadiran listrik di wilayah pedalaman tentunya akan menimbulkan berbagai dampak, baik itu berdampak positif ataupun negatif. Listrik adalah hal yang baru dan mewah bagi mereka, sehingga kehadirannya pun akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas mereka.

Dampak Positif
Kehadiran listrik memiliki berbagai dampak positif, seperti di antaranya adalah sebagai sumber penerangan baru. Penerangan pada malam hari menyebabkan aktivitas malam hari menjelang tidur dapat dilaksanakan. Salah satunya adalah aktivitas mengaji yang biasa dilakukan oleh anak-anak pada rentang di antara setelah sholat maghrib dan menjelang sholat isya di Kepemangkuan Menanga Jaya, Pekon Siring Gading. Suatu ketika, pada saat lampu yang biasa mereka gunakan mati, otomatis kegiatan mereka pun berhenti sejenak. Beberapa anak bahkan ada yang lari langsung pulang ke rumah. Beberapa anak ada yang tetap melanjutkan kegiatan mengaji dengan sumber penerangan berupa lampu senter. Selama ini, sumber penerangan mereka adalah dari genset yang berasal dari salah satu rumah tokoh warga setempat. Ketika genset mengalami gangguan, otomatis kegiatan mengaji pun mengalami gangguan pula. Dengan kehadiran PLTS Terpusat yang merupakan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Pekon Siring Gading, diharapkan mampu memberikan suplai energi listrik yang lebih stabil untuk menghidupkan penerangan di musholla pada waktu mengaji anak-anak.

Karakter permukiman di pedalaman adalah saling terpisah antara satu permukiman dengan permukiman yang lainnya, bahkan ada beberapa rumah yang jaraknya saling berjauhan. Permukiman tersebut dipisahkan oleh kebun-kebun milik warga, beberapa permukiman dipisahkan oleh semak belukar atau ladang yang tidak terurus dengan baik. Oleh karena itu, keberadaan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) sangat dibutuhkan. Selama ini, jalanan di Pekon Siring Gading sangat gelap gulita. Terlebih ketika melewati jalanan di tengah kebun-kebun milik warga. Selama ini, mereka hanya menggunakan senter apabila melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Jika menggunakan sepeda motor, mereka menggunakan sumber penerangan yang ada pada sepeda motor tersebut. Mereka juga biasa mengandalkan sumber penerangan alami berupa sinar rembulan jika bulan sedang berada pada fase bulan purnama. Lampu PJU sangat membantu bagi masyarakat dalam melakukan perjalanan dari satu permukiman ke permukiman lainnya. Terlebih, sekarang hampir seluruh penjuru yang ada di jalanan Pekon Siring Gading dilengkapi dengan lampu PJU yang aliran listriknya bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat. Kehadiran lampu PJU diharapkan dapat membantu masyarakat dalam melakukan perjalanan pada malam hari.

Kehadiran lampu penerangan yang lebih stabil juga diharapkan oleh setiap keluarga di rumah-rumah. Penerangan dibutuhkan oleh anak-anak untuk sekedar mengerjakan PR (pekerjaan rumah) ataupun belajar. Keberadaan lampu penerangan Pembengkit Listrik Tenaga Surya Terpusat yang merupakan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini tentunya membantu mereka dalam proses belajar di rumah. Keberadaan lampu penerangan ini juga sangat penting bagi setiap keluarga. Setidaknya, makan malam mereka ditemani oleh sinar lampu untuk menjalin keharmonisan dalam keluarga.

Kehadiran listrik yang berasal dari PLTS Terpusat ini juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk belajar mengenai pengelolaan. Kesempatan bagi masyarakat terbuka lebar untuk belajar mengenai pengelolaan lembaga, pengelolaan keuangan ataupun pengelolaan teknologi itu sendiri. Tidak tanggung-tanggung, teknologi yang mereka kelola pun bisa dikategorikan teknologi yang sangat jarang dijumpai oleh masyarakat Indonesia lainnya dikarenakan tidak setiap tempat di Indonesia terdapat teknologi berbasis energi surya ini. Masih banyak lagi dampak positif lain yang bisa ditimbulkan oleh kehadiran energi listrik berbasis energi terbarukan ini di masyarakat pedalaman.

Dampak Negatif
Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran energi listrik di pedalaman juga berpotensi untuk menimbulkan dampak negatif. Salah satu potensi dampak negatif tersebut adalah daya konsumsi masyarakat akan alat-alat listrik bisa saja naik dengan drastis. Hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa energi listrik yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat ini bisa digunakan dengan bebas untuk menyalakan alat-alat elektronik, seperti halnya televisi, setrika, penanak nasi maupun kulkas. Padahal seperti diketahui bahwa energi listrik yang dihasilkan oleh PLTS Terpusat pun terbatas dan digunakan oleh banyak orang. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi yang terus-menerus dari berbagai pihak bahwa listrik yang dihasilkan PLTS Terpusat harus diutamakan penggunaannya hanya untuk penerangan.

Program PLTS Terpusat dilengkapi dengan televisi yang bisa digunakan bersama-sama oleh masyarakat. Televisi tersebut idealnya diletakkan di fasilitas umum, misalnya seperti di balai pekon. Selain bisa sarana hiburan bagi masyarakat, kehadiran televisi ini juga berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Untuk menghindari terjadinya dampak negatif dengan keberadaan televisi tersebut, maka dibutuhkan aturan penggunaan televisi yang disepakati bersama oleh masyarakat. Aturan tersebut misalnya berkaitan dengan batas waktu penggunaan televisi.

Sebenarnya, masih banyak lagi potensi negatif yang bisa ditimbulkan akibat kehadiran energi listrik di wilayah pedalaman. Tentu, potensi dampak negatif ini harus bisa dicegah bersama-sama oleh seluruh masyarakat. Penggunaan energi listrik harus diarahkan agar bisa sebanyak mungkin memberikan dampak positif bagi masyarakat. Listrik yang berbasis energi terbarukan ini diharapkan mampu memberikan efek kebermanfaatan bagi masyarakat pedalaman. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari program Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat yang digagas oleh Pemerintah melalui Kementerian Energidan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini, yaitu mewujudkan #EnergiBerkeadilan di seluruh penjuru negeri.

#15HariCeritaEnergi
#DiaryofPatriotEnergi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar