Jumat, 25 Maret 2016

Netizen Jogja Diskusi dengan MPR RI


Diskusi bertema kebangsaan mungkin menjadi sesuatu yang sudah sangat jarang ditayangkan melalui siaran televisi maupun diperdengarkan melalui radio. Diskusi di lingkungan akademis juga mungkin sudah jarang dilakukan kecuali dalam kelas Pancasila maupun Kewarganegaraan, kelas masing-masing selama dua SKS (sistem kredit semester) dalam satu semester. Di sisi lain, ‘kebangsaan’ perlu untuk dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah dinamika kehidupan modern seperti saat ini, baik bagi yang tinggal di dalam negeri maupun yang sedang melanglang buana di luar negeri. Untuk menyemarakkan kembali diskusi bertema ‘kebangsaan’, MPR RI menggandeng Komunitas Blogger Jogja menggelar acara “Netizen Jogja Ngobrol Bareng MPR RI”.


*informasi kegiatan ini saya dapatkan dari page Facebook: Komunitas Blogger Jogja

Rangkaian acara ini berlangsung di Hotel East Parc Yogyakarta dari tanggal 18-19 Maret 2016 dengan peserta dari berbagai daerah, yaitu: Yogyakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya dan lain sebagainya. Rangkaian acara ini merupakan wujud upaya dari MPR RI untuk memasyarakatkan wawasan kebangsaan. MPR RI sebagai lembaga yang bertugas sebagai Rumah Kebangsaan memiliki tugas yang sangat berat. Oleh karena itu, untuk mempermudah dalam menyebarluaskan wawasan kebangsaan yang termasuk di dalamnya adalah Empat Pilar MPR RI yang terdiri dari: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka MPR RI menggandeng komunitas netizen untuk menyebarluaskannya. Netizen diharapkan dapat membantu menyebarkan wawasan kebangsaan melalui internet melalui semua lini massa yang ada, seperti: Facebook, Twitter, Instagram maupun blog.
Kegiatan ini secara umum dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:

1. Diskusi Bersama Ketua MPR RI, Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M. dengan kupasan mengenai Empat Pilar MPR RI serta GBHN sebagai Penentu Arah Bangsa.


2. Ramah Tamah dengan Sekretaris Jenderal MPR RI, Ma’ruf Cahyono, S.H., M.H.



3. Diskusi dengan Pimpinan Badan Pengkajian T. B. Soenmandjaja dengan tema Menangkal Radikalisme dengan 4 Pilar MPR RI.



Sebagai catatan bahwa yang dimaksud dengan 4 Pilar adalah 4 Pilar MPR RI bukan 4 Pilar Kebangsaan. 4 Pilar MPR RI maksudnya adalah pilar-pilar yang harus disosialisasikan oleh MPR RI. Seperti diketahui bahwa istilah “4 Pilar Kebangsaan” menimbulkan kebingungan di masyarakat dikarenakan menempatkan Pancasila setara dengan UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Padahal Pancasila adalah dasar negara yang tentunya berbeda kedudukannya dengan yang lainnya. Akhirnya pada tanggal 3 April 2014, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan untuk menghapus istilah 4 pilar kebangsaan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang perubahan atas UU Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai politik.
[diakses dari: sini]

Agar acara ini dapat terkoordinir dan terdokumentasi dengan baik, maka ada masukan yang ingin disampaikan. Tim Sosialisasi Empat Pilar MPR RI diharapkan mampu mengintegrasikan semua postingan dari media social dengan baik melalui suatu website khusus dengan tema Empat Pilar MPR RI, misalnya dengan membuat domain dengan alamat www.4pilarmpr.go.id. Melalui domain tersebut diharapkan semua postingan dari para blogger maupun netizen dari blog masing-masing dapat terkoneksi dengan www.4pilarmpr.go.id. Hal tersebut berlaku juga untuk semua lini massa social media yang lainnya, misalnya melalui twitter. Sebaiknya terdapat akun tweet yang khusus berkaitan dengan empat pilar MPR RI, misalnya: @4pilarmpr. Oleh karena itu, semua tweet yang di-mention ke @4pilarmpr maupun dengan tagar khusus, misalnya: #4pilarmpr dapat di-retweet maupun di-favorit. Konsep integrasi tersebut diharapkan mampu menguatkan peran dunia maya dalam sosialisasi empat pilar MPR RI tersebut. Konsep integrasi ini dapat menjadi sebuah dokumentasi/arsip yang baik di dunia maya. Secara sederhana, konsep integrasi di dunia maya tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sosialisasi dengan basis dunia maya tidak dapat menyentuh semua kalangan, khususnya bagi mereka yang berada di daerah perbatasan dengan negara lain. Oleh karena itu, diharapkan MPR RI tidak lupa untuk menjaring ide dalam sosialisasi ke WNI yang berada di perbatasan. Pembangunan wawasan kebangsaan tidak hanya dimulai dari masyarakat di pulau-pulau utama saja. Kegiatan ini diharapkan juga mampu untuk dilaksanakan di daerah perbatasan, misalnya dengan membentuk kader-kader wawasan kebangsaan yang diterjunkan ke daerah perbatasan. Cara lain yang mungkin bisa ditempuh adalah dengan mengintegrasikan tugas MPR RI ini dengan program-program dari Pemerintah lainnya yang diterjunkan di daerah perbatasan, misalnya: Indonesia Mengajar, SM3T oleh Kemenristekdikti maupun Patriot Energi oleh Kemen ESDM. Integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan program bagi masing-masing institusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar