Sabtu, 26 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #10: Proses Pengangkutan Komponen Pembangkit dan Rumah Kontrol

Energi Berkeadilan #10: Proses Pengangkutan Komponen Pembangkit dan Rumah Kontrol




Gambar 1. Proses Pengangkutan Material dari Pantai Way Haru Menuju Lokasi PLTS Terpusat Way Haru

Proses pembangunan PLTS Terpusat di wilayah Marga Belimbing terkendala sekali dengan proses pengangkutan material. Pembangunan sempat tertunda untuk beberapa waktu akibat material PLTS yang tak kunjung datang ke lokasi pembangunan. Salah satu faktor yang menjadi kendala adalah ketersediaan moda tranportasi laut yang sangat terbatas. Belum lagi, pada kisaran Bulan Oktober 2016, cuaca tidak begitu bersahabat bagi para pelaut. Mereka tidak berani untuk mengangkut material-material PLTS apabila kondisi cuaca tidak menentu. Apalagi mayoritas material pada tahap kedua ini merupakan material elektronik yang sangat sensitif terhadap air. Pengangkutan material tahap kedua ini terdiri dari komponen-komponen elektrik, seperti: panel surya, inverter, solar charge controller (SCC), energy limiter, instalasi rumah, instalasi lampu Penerangan Jalan Umum (PJU), kabinet baterai dan komponen-komponen lainnya.


Gambar 2. Kapal-Kapal yang Sedang Menunggu untuk Menepi di Pantai Way Haru

Pada pengiriman material tahap pertama, pengiriman dari kecamatan menuju pekon dikoordinasikan oleh masing-masing pekon. Hanya Pekon Siring Gading yang memutuskan untuk menggunakan moda laut. Sementara yang lainnya mengandalkan transportasi darat menggunakan gerobak sapi. Pengangkutan menggunakan gerobak sapi pada saat itu dirasa tidak berjalan dengan baik karena berbagai alasan. Salah satunya adalah susahnya koordinasi antara pengendara gerobak sapi dan koordinator masing-masing pekon. Belajar dari pengalaman tersebut, apalagi jumlah material yang diangkut lebih banyak, maka pengangkutan material tahap kedua dari kecamatan menuju wilayah Marga Belimbing diputuskan menggunakan moda transportasi laut. Pada pengiriman material tahap kedua ini diperlukan manajemen pengiriman yang baik karena jumlah material yang sangat banyak.



Gambar 3. Proses Muat Kapal di Pelabuhan Kota Jawa

Material tahap kedua ini dikirim ke dua lokasi yang berbeda. Untuk Pekon Bandar Dalam, material diturunkan di Pantai Karang Canggung. Sementara itu, untuk pekon yang lainnya, material diturunkan di Pantai Way Haru. Komunikasi sangat penting keberadaannya dalam proses pengiriman material ini. Sebelum kapal diberangkatkan, penanggung jawab pengiriman material yang berada di Pelabuhan Kota Jawa harus menghubungi koordinator masing-masing pekon yang berada di wilayah Marga Belimbing. Hal ini berkaitan dengan kesiapsediaan rombongan yang akan melaksanakan aktivitas bongkar muatan kapal di masing-masing lokasi. Yang menjadi tantangan adalah sinyal di wilayah Marga Belimbing sangat terbatas sekali keberadaannya. Oleh karena itu, koordinator yang akan membongkar muatan kapal harus siap sedia di lokasi yang ada sinyalnya. Beberapa lokasi yang ada sinyalnya adalah di Pantai Karang Canggung dan Pantai Way Haru. Hal ini sangat penting untuk efisiensi waktu karena bisa saja pada hari yang sudah dijadwalkan, kapal tidak jadi berangkat karena cuaca yang tiba-tiba tidak tepat untuk melaut. Setelah dipastikan kapal berangkat, koordinator bongkar muat segera menghubungi masyarakat lain yang akan melakukan aktivitas bongkar muatan kapal. Sebagai informasi, lama penyeberangan dari Pelabuhan Kota Jawa menuju Pantai Karang Canggung dan Pantai Way Haru adalah 1.5 – 2 jam.



Gambar 4. Aktivitas Bongkar Muatan Kapal di Pantai Way Haru

Pengangkutan Material dari Pelabuhan Way Haru menuju Masing-Masing Pekon

Proses pengangkutan material dari Pantai Way Haru/Pantai Karang Canggung dilakukan dengan gotong royong masyarakat masing-masing pekon. Secara umum, gotong royong dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah gotong royong yang dilakukan oleh aparatur pekon. Aparatur pekon bertugas untuk menurunkan material-material PLTS (melakukan aktivitas bongkar muatan) dari kapal nelayan untuk ditaruh di gudang di Pantai Way Haru/Pantai Karang Canggung sebelum diangkut menuju lokasi masing-masing lokasi PLTS Terpusat. Aparatur pekon juga bertugas dalam menjaga material-material PLTS sembari menunggu semua material PLTS diangkut menuju lokasi pembangunan PLTS.

Yang kedua adalah gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat masing-masing pekon untuk mengangkut material PLTS Terpusat, seperti panel surya, baterai, inverter dan peralatan elektronik lainnya. Secara teknis, gotong royong ini dikomandoi oleh masing-masing Pemangku. Berbagai cara yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengangkut material PLTS. Masyarakat Pekon Siring Gading sendiri melakukan pengangkutan material PLTS dengan berbagai cara, mulai dari dipanggul maupun dengan motor ojek. Misalnya: ada panel surya yang dibawa dengan cara dipanggul, ada juga yang dibawa dengan motor ojek. Begitu halnya dengan baterai dan inverter. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengangkut material tahap kedua ini. Namun, pada intinya adalah harus tetap memperhatikan keamanan material tersebut dikarenakan material tersebut rentan mengalami kerusakan. Pengangkutan material dengan cara yang salah dapat mengakibatkan kerusakan pada material-material PLTS, seperti baterai maupun panel surya. Pada proses pengangkutan ini, beberapa aparatur pekon juga bertugas untuk menghitung/mengawasi material yang diangkut oleh masyarakat sehingga material dapat sampai di lokasi PLTS Terpusat dengan baik.








Gambar 5. Ragam Pengangkutan Material PLTS Terpusat

Beberapa masyarakat Way Haru, Way Tias dan Bandar Dalam yang memiliki gerobak sapi juga menggunakan moda tersebut untuk mengangkut material PLTS Terpusat. Masyarakat Way Haru menggunakan gerobak sapi untuk mengangkut baterai dan inverter. Bisa dikatakan, hampir semua moda yang ada digunakan untuk mengangkut material PLTS Terpusat. Bahkan, beberapa masyarakat Bandar Dalam dan Way Haru juga melakukan pengangkutan kabel distribusi dengan cara dipanggul. Kabel distribusi yang memiliki massa 800 kg dan panjang 1000 meter dipanggul oleh sekitar 80 orang.

Proses Pengangkutan Kabinet Baterai



Gambar 6. Proses Penurunan Kabinet Baterai dari Kapal

Pada proses pengangkutan material tahap kedua ini, material yang paling susah untuk diangkut adalah kabinet baterai. Kabinet baterai terdiri dari dua jenis. Jenis yang pertama berukuran lebih kecil. Kabinet baterai ini akan dipasang di dalam rumah shelter atau biasa disebut kabinet baterai indoor. Kabinet baterai indoor memiliki massa 250 kg. Sementara itu, jenis kabinet baterai yang kedua adalah kabinet baterai outdoor yang memiliki massa 350 kg. Dengan dimensi yang begitu besar, proses pengangkutan kabinet baterai ini pun menjadi tantangan tersendiri.

Ada berbagai cara dilakukan dalam proses pengangkutan kabinet baterai ini. Masyarakat Siring Gading, Way Haru dan Kepemangkuan Bandar Dalam Induk melakukan pengangkutan kabinet baterai menggunakan gerobak sapi. Pada proses pengangkutan kabinet baterai dengan gerobak sapi, disediakan beberapa sapi cadangan. Hal tersebut dikarenakan terkait dengan massa yang biasa ditarik oleh sapi. Biasanya sapi hanya menarik gerobak dengan massa maksimal adalah 250 kg. Seperti diketahui bahwa kabinet baterai outdoor memiliki massa 350 kg. Ketika ada sapi yang kelelahan, maka akan segera diganti oleh sapi yang lainnya. Proses pengangkutan kabinet baterai dengan gerobak sapi juga diiringi oleh banyak orang. Hal ini bertujuan untuk mengatur keseimbangan gerobak ketika melewati jalanan yang terjal, seperti ketika melewati parit maupun sungai ataupun ketika melewati jalan menanjak maupun menurun. Sementara itu, beberapa masyarakat mengangkut kabinet baterai dengan cara dipanggul, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Kepemangkuan Rawa Becik, Bandar Dalam dan masyarakat Way Tias. Proses pengangkutan kabinet baterai dengan cara dipanggul memiliki kesulitan dalam mengatur formasi orang dalam mengangkut kabinet baterai.


Video 1. Proses Pengangkutan Kabinet Baterai Menggunakan Gerobak Sapi

Proses pembangunan PLTS Terpusat yang merupakan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memang membutuhkan kerja keras dan kerja sama dari semua pihak, termasuk di dalamnya adalah masyarakat. Proses pengangkutan material tahap kedua ini membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa. Dengan selesainya proses pengangkutan material tahap kedua ini, maka proses pembangunan PLTS Terpusat dapat segera diselesaikan karena kendala utama dalam proses pembangunan PLTS Terpusat di Wilayah Marga Belimbing adalah tersendatnya proses pengiriman material.

#15HariCeritaEnergi
#DiaryofPatriotEnergi




Jumat, 25 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #9: Pembangunan Tahap Pertama (Penyediaan Lahan, Konstruksi PLTS, Pembangunan Jaringan Listrik)

Energi Berkeadilan #9: Pembangunan Tahap Pertama (Penyediaan Lahan, Konstruksi PLTS, Pembangunan Jaringan Listrik)

Lokasi dan Konstruksi Area Pembangkit




Gambar 1. Lokasi dan Konstruksi Area Pembangkit

Salah satu aspek yang menjadi program PLTS Terpusat berjalan adalah kesediaan masyarakat menyediakan lahan untuk dijadikan sebagai lokasi PLTS Terpusat. Lahan harus dipastikan terlebih dahulu statusnya. Lahan tidak boleh termasuk dalam area hutan konservasi. Hal tersebut sangat krusial. Tidak boleh terjadi sengketa lahan ketika PLTS Terpusat sudah terbangun. Lahan nantinya akan digunakan sebagai area pembangkit sebagai area menangkap cahaya matahari dan mengkonversikannya menjadi energi listrik. Berikut adalah beberapa faktor yang berkaitan dengan lahan PLTS Terpusat.

1. Daya dukung tanah
Hal ini berkaitan dengan jenis pondasi dan jenis struktur penyangga yang dibutuhkan. Jenis tanah yang ada di Siring Gading adalah tanah liat, sehingga dibutuhkan pondasi yang kokoh agar tidak tergerus oleh air hujan.

2. Kerataan tanah
Hal ini berkaitan dengan kebutuhan untuk proses cut and fill dalam pembuatan pondasi.

3. Drainase Area Modul Panel Surya
Lahan PLTS harus memiliki saluran drainase yang baik agar tidak ada genangan air ketika turun hujan.

4. Vegetasi
Cek jenis tanaman yang mungkin tumbuh di area modul panel surya. Hal tersebut berkaitan dengan kebutuhan perawatan/pemangkasan

5. Luas area
Pengecekan luas area berikut bentuk lahannya, berkaitan dengan layout modul surya dan luas efektif yang yang dapat digunakan.

6. Lokasi terhadap laut
Semakin dekat lokasi terhadap laut, resiko korosi semakin tinggi, sehingga diperlukan peralatan yang memiliki kekuatan terhadap korosi. Lokasi PLTS Terpusat Siring Gading jauh dengan laut, sehingga aman dari korosi.

7. Potensi shading (bayangan)
Cek posisi dan ketinggian potensi bayangan berikut kemungkinan mengatasinya.

8. Iradiasi dan temperatur aktual
Data iradiasi dan temperatur aktual digunakan untuk memverifikasi desain. Perubahan desain mungkin diperlukan jika terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara asumsi yang diambil di awal dengan data lapangan

9. Kelembaban dan kecepatan angin (jika diperlukan)
Data ini diperlukan jika memang terdapat indikasi kelembaban dan kecepatan angin yang tinggi hingga berdampak negatif terhadap peralatan. Data digunakan untuk memverifikasi desain dan merevisi desain jika dibutuhkan.

10. Akses jalan dan akses listrik
Untuk antisipasi dan pembuatan rencana pelaksanaan proses pembangunan PLTS Terpusat.

11. Orientasi arah hadap panel surya
Panel surya diletakkan pada lahan dengan menghadap ke arah garis khatulistiwa. Dimana garis khatulistiwa ini adalah garis lintasan peredaran matahari sehingga lahan yang akan digunakan sebagai lokasi pemasangan panel surya harus menyesuaikan dengan posisi garis khatulistiwa tersebut.

Lahan yang disediakan masyarakat berada di dekat Balai Pekon Siring Gading. Lahan ini berasal dari dana iuran masyarakat. Uang iuran tersebut digunakan untuk membeli tanah milik seorang warga yang terletak di samping balai pekon. Lahan tersebut awalnya adalah berupa kebun coklat. Lahan tersebut berukuran 20 x 30 m2 untuk PLTS Terpusat berkpasitas 30 kWp. Kontur yang miring menyebabkan masyarakat harus melakukan proses pengkondisian agar PLTS dapat dibangun. Lahan dibuat menjadi tiga undak. Undakan pertama dan kedua digunakan untuk konstruksi panel surya. Undakan ketiga (paling atas) digunakan untuk menempatkan rumah shelter (rumah pembangkit). Rumah shelter adalah tempat yang digunakan untuk menaruh baterai, kontroler, inventer dan perlengkapan kendali lainnya. Lokasi ini merupakan pusat dari sistem PLTS Terpusat Siring Gading. Walaupun tidak berada tepat di tengah-tengah lokasi desa, namun lokasi ini berada di wilayah permukiman Siring Gading yang paling padat. Bisa dikatakan setengah dari total beban listrik berada di dekat area pembangkit.

Pembangunan Jaringan Listrik
Sesampainya tiang listrik di lokasi pembangunan PLTS Terpusat, tiang listrik yang berbahan galvanis ini diamplas sebelum dilapisi oleh cat berwarna silver. Tujuan dari pengamplasan adalah untuk menghilangkan bekas korosi akibat terkena air laut pada saat pengiriman barang dari Pelabuhan Kota Jawa menuju Pantai Way Haru. Sementara itu, tujuan pengecatan adalah agar tiang listrik tidak mudah terkena korosi.

Selanjutnya, tiang listrik didistribusikan ke seluruh lokasi yang dilewati jalur jaringan distribusi PLTS Terpusat. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat pondasi tiang listrik. Berdasarkan informasi yang didapat dari tim kontraktor yang melakukan pembangunan PLTS Terpusat, beberapa lokasi penempatan tiang listrik tersusun atas batu karang yang susah untuk digali. Oleh karena itu, beberapa lokasi pemasangan tiang terpaksa harus digeser sekitar satu meter dari rencana lokasi awal. Tiang listrik yang berjumlah 141 buah dipasang di sepanjang jalan dimulai dari pintu masuk Pekon Siring Gading (jembatan gantung perbatasan perbatasan Way Haru dan Siring Gading) yang terletak di Kepemangkuan Sinar Jaya. Jalur distribusi PLTS Terpusat membentang di Kepemangkuan Sinar Jaya, Siring Kuyung, Siring Gading, Sumber Jaya dan paling ujung pekon, Menanga Jaya.



Gambar 2. Pohon-Pohon yang Ditebang di Jalur Distribusi

Di sepanjang jalan yang dilewati oleh jalur distribusi listrik tidak boleh ada pohon yang sekiranya dapat membahayakan warga masyarakat ketika PLTS Terpusat beroperasi. Oleh karena itu, bentuk kerja sama masyarakat selanjutnya adalah penebangan beberapa pohon yang ditakutkan akan membahayakan masyarakat dan jaringan distribusi listrik. Penebangan dikomandoi oleh masing-masing Pemangku (Kepala Kepemangkuan). Sempat ada kendala dikarenakan ada beberapa pemilik yang tidak rela pohonnya ditebang. Melalui proses musyawarah yang berjalan dengan alot, akhirnya semua pohon yang ada di jalur distribusi PLTS dapat ditebang. Pentingnya penebangan ini adalah untuk menghindari terjadinya korban akibat tersengat listrik. Tujuan lainnya adalah untuk menghindari rusaknya jaringan distribusi jika pohon tumbang. Beberapa pohon yang ditebang adalah berupa pohon kelapa, pohon dadap (sebagai rambatan tanaman lada), pohon kopi dan kakao. Proses penebangan pohon di jalur distribusi harus dilakukan sebelum dilakukan pemasangan tiang dan kabel distribusi.

Setelah seluruh tiang listrik dipasang, kabel jaringan distribusi mulai dipasang mulai dari dekat jembatan gantung perbatasan Way Haru dan Siring Gading berlanjut sampai lokasi PLTS Terpusat. Selanjutnya kabel dipasang di seluruh jalur distribusi di Kepemangkuan Sinar Jaya. Dari lokasi PLTS Terpusat, kabel jaringan distribusi ditarik sampai ujung Kepemangkuan Siring Kuyung. Tahap terakhir, kabel distribusi ditarik dari lokasi PLTS Terpusat menuju Kepemangkuan Siring Gading, Sumber Jaya dan berakhir di Menanga Jaya.

Bukan hanya gotong royong saja yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mewujudkan PLTS Terpusat yang merupakan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini. Keikhlasan masyarakat dalam beriuran untuk mengadakan tanah serta kerelaan dalam mempersilahkan pohon-pohon yang mereka miliki juga menjadi poin penting yang tidak bisa dilupakan. Untuk mewujudkan #EnergiBerkeadilan di seluruh pelosok Indonesia memang membutuhkan pengorbanan.

Referensi:
Khulaemi, Ahmad. 2016. Aspek Kelayakan PLTS Terpusat. Jakarta: Pusdiklat KEBTKE, Kementerian ESDM

#15HariCeritaEnergi
#DiaryofPatriotEnergi




Kamis, 24 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #8: Proses Pengangkutan Kabel Listrik

Energi Berkeadilan #8: Proses Pengangkutan Kabel Listrik



Gambar 1. Rombongan Motor Ojek Pengangkut Kabel Distribusi sedang Berhenti ketika Ada Salah Satu Motor yang Jatuh

Seperti halnya tiang-tiang listrik, kabel listrik juga dikirim menggunakan kapal nelayan dari Pelabuhan Kota Jawa menuju Pantai Way Haru. Panjang jaringan distribusi listrik PLTS Terpusat Siring Gading mencapai 4000 meter. Total ada empat gulungan kabel jaringan distribusi dengan panjang masing-masing adalah 1000 meter. Masing-masing gulungan bermassa sekitar 800 kg.

Yang menjadikan tantangan dalam proses pengangkutan kabel listrik dari Pantai Way Haru menuju lokasi PLTS Terpusat Siring Gading adalah gulungan kabel tersebut tidak boleh dipotong-potong. Selama ini, moda transportasi maksimal yang ada hanya bisa mengangkut dengan massa maksimal adalah 250 kg. Pada saat ini, keberadaan gerobak sapi di Siring Gading sudah semakin sedikit. Hanya ada 1 gerobak sapi yang masih dioperasikan, itupun hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Mayoritas pemilik gerobak sapi sekarang beralih menjadi tukang ojek motor. Massa maksimal yang bisa diangkut oleh motor yang biasa digunakan untuk ojek adalah 150 kg. Tentunya moda transportasi yang ada tidak mampu untuk mengangkut gulungan kabel distribusi.  

Nampaknya, keterbatasan memicu kreativitas. Dengan keterbatasan yang ada, tidak membuat masyarakat menyerah. Mereka berusaha untuk berpikir bagaimana caranya untuk mengangkut kabel distribusi tersebut. Proses diskusi pun dilakukan secara tenang. Akhirnya diputuskan kabel distribusi diangkut dengan motor ojek. Bagaimana masyarakat melakukannya?

Mereka memanfaatkan semaksimal mungkin moda transportasi yang mereka miliki. Motor ojeklah pilihannya. Pukul 07.30 WIB tanggal 21 Agustus 2016, aparatur pekon Siring Gading telah berkumpul di depan lokasi pembangunan PLTS Terpusat. Mereka bersiap-siap untuk menuju Pantai Way Haru. Aparatur Pekon Siring Gading menuju Pantai Way Haru dengan menaiki motor ojek, saling berboncengan.

Di Pantai Way Haru telah terjulur kabel distribusi yang akan mereka angkut. Seketika setelah sampai di Pantai Way Haru, rombongan aparatur pekon Siring Gading langsung bergerak cepat untuk mempersiapkan segala hal untuk mengangkut kabel distribusi. Beberapa orang mengulur kabel sementara yang lainnya mencari kayu dan apa saja yang bisa digunakan untuk mengikat kabel distribusi ke motor ojek.

Untuk mengangkut kabel distribusi dari Pantai Way Haru menuju lokasi pembangunan PLTS Terpusat di Siring Gading, dibutuhkan kerja sama dari rombongan aparatur pekon. Pada hari itu, ada 17 motor ojek yang siap digunakan untuk mengangkut kabel distribusi. Di Pantai Way Haru baru ada dua gulung kabel distribusi yang siap untuk diangkut, sementara 2 kabel distribusi masih berada di Pelabuhan Kota Jawa. Oleh karena itu, motor ojek dibagi menjadi dua rombongan. Rombongan pertama terdiri dari 9 motor, sisanya terdiri dari 8 motor. Nantinya, kabel distribusi akan dililitkan di motor-motor ojek.

Motor-motor ojek disusun berurutan di masing-masing rombongan. Pada masing-masing motor ojek diikatkan kayu sebagai landasan untuk melilitkan kabel distribusi. Setelah semua motor ojek dilengkapi dengan kayu, maka kabel distribusi dililitkan pada masing-masing motor. Cara untuk mengangkut kabel distribusi tersebut adalah dengan menggunakan delapan/sembilan motor ojek secara sambung-menyambung. Dengan cara ini, maka massa kabel distribusi yang mencapai 800 kg dibagi ke delapan/sembilan motor. Massa maksimal di tiap-tiap motor adalah 100 kg sehingga tidak melebihi kapasitas maksimal tiap motor ojek.






Gambar 2. Proses Melilitkan Kabel di Motor Ojek

Persiapan untuk melilitkan kabel ini membutuhkan waktu sekitar dua jam. Proses melilitkan kabel distribusi ini agak lama dikarenakan untuk menjamin lilitan kabel terikat dengan baik di masing-masing motor ojek. Setelah semua kabel distribusi di setiap rombongan terlilit dengan baik, maka rombongan motor ojek pembawa kabel distribusi pun diberangkatkan. Di setiap motor, ada satu orang yang mengiringi untuk membantu jika motor tersebut roboh atau terjebak dalam kubangan lumpur. Atau jika pengendara motor ojek lelah, bisa digantikan dengan pengiring tersebut.

Mereka harus menyusuri tepian pantai terlebih dahulu sebelum menyeberangi muara. Proses penyeberangan muara merupakan tantangan pertama mereka dalam proses pengangkutan kabel distribusi ini. Muara tersebut memang tidak memiliki arus yang kuat dan dalamnya hanya sebatas lutut orang dewasa. Namun, yang perlu diperhatikan adalah tidak semua bagian muara bisa dilewati dengan baik.  Oleh karena itu, ada orang yang ditugaskan untuk menyisir muara untuk memilih jalur yang tepat agar rombongan motor ojek dapat melewati muara dengan baik.



Video 1. Rombongan Motor Ojek Melewati Jembatan Gantung Perbatasan Bandar Dalam dan Way Haru

Tantangan selanjutnya adalah ketika melewati jembatan gantung yang merpakan perbatasan Pekon Bandar Dalam dan Way Haru. Rombongan harus berhati-hati agar dapat melewati jembatan gantung dengan baik. Rombongan selanjutnya melewati kebun yang ditumbuhi oleh pohon-pohon damar. Akar-akar pohon damar yang menjulang menyulitkan setiap motor ojek yang melewatinya. Beberapa motor bahkan tidak kuat ketika menerjang akar-akar pohon damar. Oleh karena itu, butuh beberapa pengiring untuk mendorong motor tersebut. Beberapa motor sempat terjatuh ketika menerjang akar-akar pohon damar. Beberapa pengiring dengan sigap langsung membantu motor untuk berdiri kembali. Selepasnya, rombongan harus melewati jalanan di Way Haru. Beberapa ruas jalanan di Way Haru yang menjadikan tantangan adalah jalan yang menanjak dan ruas jalan berlumpur sedalam betis orang dewasa. Pada ruas-ruas jalanan yang menantang tersebut, baik pengendara dan pengiring harus sangat teliti dan berhati-hati. Jembatan gantung kedua yang merupakan perbatasan Way Haru dan Siring Gading adalah tantangan terakhir sebelum akhirnya lilitan kabel distribusi dilepaskan dari motor-motor ojek. Proses pengangkutan ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Pantai Way Haru menuju lokasi PLTS Terpusat di Siring Gading.

Dalam proses pengangkutan ini, ritme setiap pengendara dalam mengendari motor ojek harus diatur dengan baik. Mereka harus menyesuaikan kecepatan motor dengan pengendara yang lain. Apabila satu motor lebih cepat dari yang lainnya, maka motor tersebut akan menarik motor yang ada di belakangnya. Apabila motor berjalan lebih lambat dari motor yang lainnya, maka motor tersebut dapat tertarik oleh motor di depannya.




Gambar 3. Pengiring Sigap Menolong Salah Satu Motor yang Roboh

Model pengangkutan ini bukanlah tanpa resiko. Sering kali beberapa motor terjatuh akibat tarik-menarik antarmotor. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama dan rasa saling pengertian yang baik antarpengemudi motor. Proses pembangunan PLTS Terpusat yang merupakan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini memang membutuhkan kerja keras dari masyarakat. Pengangkutan kabel distribusi ini adalah salah satu buktinya. Semuanya demi mewujudkan #EnergiBerkeadilan di seluruh penjuru Indonesia.

#15HariCeritaEnergi
#DiaryofPatriotEnergi


Rabu, 23 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #7: Proses Pengangkutan Tiang-Tiang Listrik

Energi Berkeadilan #7: Proses Pengangkutan Tiang-Tiang Listrik




Gambar 1. Bongkar Muatan Kapal

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat yang merupakan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Siring Gading terletak di Kepemangkuan Siring Kuyung, tepat di sebelah gedung balai pekon. Lokasi ini bisa dikatakan berada di area permukiman paling ramai yang ada di Pekon Siring Gading. Lokasinya terletak sekitar 5 km dari pesisir Pantai Way Haru. Pantai Way Haru merupakan lokasi penurunan material PLTS dari kapal-kapal nelayan. Sebenarnya, Pantai Way Haru sangat tidak ideal untuk menjadi lokasi lalu lalang kapal-kapal yang mengangkut material PLTS. Pantai Way Haru merupakan pantai yang berkarang. Di pantai tersebut hanya tersedia celah selebar lima meter yang bisa digunakan oleh kapal untuk menepi ke pinggir pantai. Salah-salah perhitungan, maka kapal bisa menumbur karang dan beresiko kapal karam. Oleh karena itu, nahkoda kapal yang bertugas untuk melakukan pengiriman barang menuju Pantai Way Haru adalah mereka yang sudah hafal dengan karakter Pantai Way Haru.

Pengiriman material menggunakan jalur laut dari kecamatan menuju Wilayah Marga Belimbing ini merupakan pertimbangan yang sudah sangat matang. Sepanjang Juli 2016, hujan sering kali mengguyur Wilayah Marga Belimbing yang menyebabkan akses darat menuju dan keluar sangat berat. Guyuran hujan menyebabkan jalan menjadi berlumpur tak beraturan. Bahkan, para tukang ojek dan gerobak sapi pun mengalami kewalahan dalam menempuh jalan yang biasa mereka lewati. Memang, penggunaan jalur laut membutuhkan biaya yang sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan jalur darat. Namun, dengan pertimbangan faktor cuaca dan jalanan yang sedang susah-susahnya untuk dilewati, maka jalur laut bisa menjadi alternatif dalam proses pengiriman material PLTS Terpusat pada tahap awal ini.

Pertimbangan lainnya adalah jalur laut menyebabkan proses pengiriman barang menjadi lebih efektif dikarenakan sekali angkut menggunakan kapal bisa memuat sampai 14 tiang listrik. Sementara itu, jika menggunakan gerobak sapi, jumlah tiang yang diangkut sekali jalan adalah 4 tiang. Pengangkutan tiang listrik menggunakan gerobak sapi pun terkendala dengan kebiasaan aktivitas operasional gerobak sapi. Biasanya, ketika gerobak sapi keluar menuju kecamatan, maka mereka mengangkut hasil pertanian yang kemudian dijual di Pasar Way Heni. Kembalinya dari pasar, mereka mengangkut barang belanjaan. Sehingga, sekali perjalanan keluar-masuk pekon, mereka selalu membawa barang bawaan. Dengan kata lain, sekali melakukan perjalanan keluar masuk pekon, mereka mendapatkan dua kali bayaran. Sementara itu, pada saat mereka mengangkut tiang-tiang listrik, mereka tidak membawa barang bawaan ketika keluar menuju kecamatan. Hal tersebut membuat negosiasi biaya pengangkutan tiang listrik menggunakan gerobak sapi menjadi alot dan begitu rumit.

Proses pengiriman tiang-tiang listrik yang juga termasuk pondasi panel surya, pagar, penangkal petir dan rumah shelter dilakukan selama dua hari, yaitu pada tanggal 27 dan 28 Juli 2016. Tepat pada saat cuaca dan laut tenang tenang sehingga kapal-kapal berani untuk beroperasi menyisir Samudera Hindia dari Pelabuhan Kota Jawa menuju Pantai Way Haru. Pelabuhan Kota Jawa merupakan pelabuhan yang terletak sekitar 10 km dari pusat Kecamatan Bengkunat Belimbing. Sepanjang proses pengiriman material pada tahap ini, proses bongkar muatan kapal yang ada di Pelabuhan Way Haru dilakukan oleh seluruh aparatur Pekon Siring Gading tanpa terkecuali. Strategi yang dikomandoi langsung oleh Peratin (Lurah dalam istilah Lampung) ini adalah berupa pemberian contoh gotong royong yang dilakukan oleh seluruh aparatur pekon kepada masyarakat Siring Gading terlebih dahulu. Selanjutnya, baru dilaksanakan gotong royong massal yang harus diikuti oleh seluruh laki-laki dewasa yang ada di Siring Gading.


Proses Pengangkutan Material PLTS dari Pantai Way Haru menuju Siring Gading







Gambar 2. Proses Pengangkutan Tiang-Tiang Listrik

Proses pengangkutan tiang-tiang listrik beserta peralatan konstruksi area pembangkit dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2016. Tua muda menyusuri jalanan dari Siring Gading menuju Pantai Way Haru. Mereka harus rela meninggalkan kebunnya untuk sementara waktu demi pembangunan PLTS Terpusat cepat selesai. Antusiasme masyarakat sangat tinggi terhadap kehadiran PLTS Terpusat. Mereka ingin segera melihat jalanan Siring Gading menjadi terang-benderang pada malam hari. Pada pembangunan PLTS Terpusat ini, selain untuk rumah tangga, aliran listrik juga ditujukan untuk penerangan jalan umum.

Masyarakat berbondong-bondong dari Pekon Siring Gading menuju Pantai Way Haru. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang menaiki motor untuk mencapai Pantai Way Haru. Tujuh kepemangkuan terlibat dalam kegiatan gotong royong ini, tak kerkecuali Ulok Baru dan Talang Puncak yang tidak teraliri listrik PLTS Terpusat. Masyarakat mengangkut tiang listrik dari Pantai Way Haru menuju lokasi pembangunan PLTS Terpusat Siring Gading menggunakan dua cara. Cara yang pertama adalah dengan dipanggul. Satu tiang listrik dipanggul oleh dua orang. Sementara itu, satu orang siap sedia untuk bergantian jika ada yang merasa lelah. Beberapa orang mengangkut material-material pembangkit, seperti konstruksi panel surya, papan rumah shelter, pagar pembangkit serta penangkal petir.

Bagi yang memiliki sepeda motor, mereka mengangkut tiang listrik menggunakan motornya. Satu motor bisa digunakan untuk mengangkut dua tiang listrik. Setiap motor diiringi oleh dua orang untuk memandu jalannya motor. Proses ini bukannya tanpa kendala, jalanan yang masih becek berupa lumpur menjadikan proses pengangkutan agak sedikit terkendala. Dalam proses gotong royong ini pun belum semua tiang listrik yang berjumlah 141 buah sudah terangkut. Oleh karena itu, sisa tiang listrik yang ada di Pantai Way Haru akan dibagi-bagi per kepemangkuan. Mayoritas sisa tiang listrik tersebut akhirnya diangkut menggunakan gerobak sapi.

Proses pengangkutan material-material pada tahap ini baru merupakan langkah awal dalam proses pembangunan PLTS Terpusat. Dengan datangnya material-material ini, proses pemasangan tiang-tiang listrik dan konstruksi sipil area pembangkit pun segera bisa dilaksanakan. Terlihat jelas bahwa peran masyarakat untuk mewujudkan PLTS Terpusat ini sangat besar. Semangat gotong royong ini sebaiknya terus bisa dijaga bukan hanya dalam proses pembangunan PLTS Terpusat ini, melainkan juga sebagai senjata ampuh dalam mengatasi berbagai tantangan hidup di pedalaman.

#15HariCeritaEnergi
#DiaryofPatriotEnergi

Selasa, 22 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #6: Peran Serta Masyarakat dalam Mewujudkan PLTS Terpusat

Energi Berkeadilan #6: Peran Serta Masyarakat dalam Mewujudkan PLTS Terpusat


Gambar 1. Gotong Royong Masyarakat Siring Gading

Hampir 100 % penduduk Siring Gading adalah masyarakat pendatang. Mereka berasal dari Kabupaten-Kabupaten lain yang ada di Provinsi Lampung. Siring Gading merupakan masyarakat multikultur. Mereka berasal dari berbagai suku yang berbeda. Penduduk Siring Gading adalah masyarakat pendatang yang terdiri dari 50 % Suku Sunda, 30 % Suku Jawa, sisanya merupakan Suku Lampung (Krui), Suku Bali dan Semendo. Keragaman ini terbentuk dari kesamaan nasib yang membawa mereka ‘terdampar’ di tanah nan subur di pinggiran Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Mereka datang dengan tujuan untuk membuka ladang. Kesamaan nasib ini menjadikan masyarakat Siring Gading menyadari akan pentingnya kebersamaan. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap segala bentuk pembangunan yang ada di Pekon. Dalam setiap pembangunan yang ada di Pekon Siring Gading, misalnya: rabat jalan, pembuatan jembatan, pembuatan fasilitas umum, mereka sangat mengutamakan swadaya masyarakat. Termasuk dalam menyambut datangnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga (PLTS) Terpusat yang merupakan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2016.  

Pembangunan PLTS Terpusat merupakan sebuah proses yang menguras waktu, tenaga dan pikiran. Proses pembangunan PLTS Terpusat tentunya tidak akan terwujud apabila tidak adanya kerjasama yang baik di antara berbagai pihak. Pihak yang terlibat dalam proses pembangunan ini adalah Kementerian ESDM, Dinas Kabupaten, kontraktor pembangun serta masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan ini menjadi poin penting dalam mewujudkan PLTS Terpusat. Nantinya, masyarakat merupakan pengelola sekaligus pengguna PLTS Terpusat. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan PLTS menjadi poin penting yang tidak boleh ditinggalkan. Keterlibatan dalam setiap proses pembangunan adalah sebagai sebuah terapi agar masyarakat pun merasa memiliki PLTS Terpusat tersebut. Artinya, mereka diharapkan dapat menjaga dengan baik aset PLTS Terpusat tersebut karena PLTS tersebut adalah milik bersama yang telah diperjuangkan bersama-sama.

Secara umum, proses pembangunan PLTS Terpusat yang ada di Siring Gading, termasuk di tiga pekon lainnya yang ada di Wilayah Marga Belimbing dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Persiapan Lahan
2. Proses pengangkutan material tahap pertama yang meliputi tiang listrik dan konstruksi panel surya
3. Pembangunan konstruksi pembangkit dan pemasangan tiang-tiang listrik
4. Proses pengangkutan kabel-kabel jaringan
5. Pemasangan kabel-kabel jaringan
6. Proses pengangkutan material pembangkit dan instalasi rumah tangga
7. Pemasangan material pembangkit dan instalasi rumah tangga
8. Uji coba penyalaan PLTS Terpusat

Dalam proses pembangunan PLTS Terpusat, Pemerintah Pekon memiliki kewajiban dalam mempersiapkan lahan. Tidak semua pekon memiliki aset lahan yang sewaktu-waktu bisa dihibahkan untuk proses pembangunan. Pekon Siring Gading merupakan salah satu yang tidak memiliki lahan sendiri, sehingga mereka harus bahu-membahu dalam mengadakan lahan sebagai lokasi PLTS Terpusat.

Dari semua proses yang dilalui, proses yang sangat berat dalam proses pembangunan PLTS Terpusat adalah proses pengangkutan material menuju lokasi pembangunan. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan sekali dalam proses pengangkutan material PLTS Terpusat ini. Hal tersebut karena masyarakatlah yang paling paham dan mengerti bagaimana akses yang ada di wilayah mereka. Mereka juga lebih paham, moda transportasi apa yang paling cocok digunakan untuk mengangkut material-material PLTS Terpusat. Terlebih, akses dari kecamatan menuju wilayah empat pekon harus melewati jalur yang sangat ekstrem. Satu-satunya moda transportasi yang setiap hari beroperasi adalah motor ojek dengan berbagai modifikasi untuk menyesuaikan dengan kondisi alam. Kendaraan yang lain adalah gerobak sapi. Namun, melihat ukuran dan jumlah yang begitu banyak, nampaknya pemnafaatan moda transportasi yang biasa beroperasi sangat tidak memungkinkan. Bayangkan saja, salah satu material yang ada salah satunya adalah kabel dengan total beban satu gulung kabel adalah 800 kg. Padahal, beban maksimal yang biasa diangkut oleh gerobak sapi adalah sekitar 250 kg. Sementara itu, beban maksimal yang bisa diangkut oleh ojek motor berkisar 150 kg. Satu-satunya alternatif yang bisa ditempuh adalah dengan moda angkutan laut. Namun, kendala utamanya adalah tidak adanya kapal yang setiap hari lalu lalang dari Pelabuhan Kota Jawa (pelabuhan terdekat dari kecamatan) menuju tepian Pantai Way Haru atau Pantai Karang Canggung.

Peran serta masyarakat selanjutnya yang merupakan tantangan terbesar dalam program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat adalah pasca pembangunan atau lebih tepatnya dalam fase operasi dan perawatan PLTS Terpusat. Masyarakat adalah pengguna sekaligus sebagai perawat PLTS Terpusat. Agar masyarakat paham secara teknis mengenai PLTS Terpusat, kontraktor yang bertanggung jawab dalam pembangunan fisik PLTS pun melibatkan masyarakat dalam proses perakitan PLTS. Pemerintah Pekon wajib memilih orang-orang terbaik yang ke depannya dapat dijadikan sebagai operator PLTS Terpusat. Orang-orang pilihan tersebut pun harus siap untuk memperbaiki PLTS Terpusat, jika suatu saat terdapat kerusakan dalam operasionalnya.

Pada akhirnya, kemajemukan masyarakat Siring Gading bukan menjadi halangan dalam proses pembangunan ini. Justru, kemajemukan tersebut menjadi senjata ampuh dalam kelancaran proses pembangunan PLTS. Walaupun mereka berasal dari suku yang berbeda-beda, mereka sadar bahwa kalau hanya mengeluh saja maka masalah tidak bisa diselesaikan. Melihat bahkan ikut merasakan apa yang mereka lakukan merupakan sebuah anugerah yang luar biasa, hati mereka masih merah putih walau mereka harus menjalani hari-hari dengan perih. Mereka memberikan pelajaran tentang kebhinekaan yang sebenar-benarnya. Begitulah sekelumit potret ke-bhineka-an di wilayah terisolir nan tertinggal di tepian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu jua!

#15HariCeritaEnergi

#DiaryofPatriotEnergi