Jumat, 18 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #2: Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pedesaan

Energi Berkeadilan #2: Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pedesaan

Sebelum kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga (PLTS) Terpusat yang merupakan program bantuan dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral dibangun pada tahun 2016, masyarakat Wilayah Marga Belimbing sebenarnya sudah merasakan energi listrik di wilayah mereka. Namun, jumlah dan kualitasnya sangatlah terbatas. Beberapa masyarakat, seperti kepala desa ataupun petani yang memiliki ladang yang sangat luas, memiliki mesin genset untuk menghidupkan energi listrik. Namun, yang memiliki genset sangatlah sedikit. Mesin genset tersebut pun rata-rata hanya dinyalakan dari jam 17.30 sampai pukul 22.00, atau tepat sebelum mereka tidur. Kondisi ini barang kali hampir sama terjadi di daerah perdesaan terisolir di Indonesia.

Selain genset, masyarakat juga sudah mengenal tentang keberadaan alat konversi energi surya menjadi energi listrik. Alat tersebut berupa seperangkat Solar Home System (Pembangkit Listrik Tenaga Surya skala rumah tangga) yang biasa disingkat dengan SHS.

Solar Home System

Gambar 1. Solar Home System

Secara umum, Solar Home System terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
1. Panel Surya, sebagai komponen utama konversi energi surya menjadi energi listrik
2. Baterai, sebagai alat penyimpan energi listrik.
Baterai berfungsi untuk menyimpan daya yang dihasilkan oleh panel surya yang tidak segera digunakan oleh beban. Daya yang disimpan dapat digunakan saat periode radiasi matahari rendah atau pada malam hari. Baterai menyimpan listrik dalam bentuk daya kimia. Baterai memiliki dua tujuan penting dalam sistem PLTS, yaitu untuk memberikan daya listrik kepada sistem ketika daya tidak disediakan oleh panel surya serta untuk menyimpan kelebihan daya yang dihasilkan oleh panel surya.
3. Inverter, sebagai pengubah arus listrik DC menjadi arus listrik AC.
Sistem tenaga surya mengubah radiasi surya menjadi arus listrik searah (DC). Inverter dibutuhkan untuk mengubah arus searah menjadi arus bolak-balik (AC), jika beban membutuhkan arus listrik bolak-balik. Tegangan masukan DC pada inverter adalah tegangan yang sama dengan tegangan baterai dan tegangan keluaran panel surya. Tegangan masukan DC pada inverter biasanya disebut dengan tegangan sistem yang bernilai 12 V, 24 V atau 48 V. Tegangan yang lebih tinggi akan membutuhkan arus listrik yang lebih rendah. Hal ini mampu mengurangi kehilangan daya pada kabel.
4. Beban Listrik, contohnya adalah lampu
5. Solar Charge Controller, sebagai alat pengatur sistem.
Solar Charge Controller adalah peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur banyak sedikitnya arus searah yang masuk ke baterai dan juga menagmbil arus dari baterai ke beban. Selain itu, Solar Charge Controller juga berfungsi mencegah baterai dari overcharge dan kelebihan tegangan dari modul surya. Kelebihan voltase pada baterai akan mengurangi umur baterai. Jadi, tanpa Solar Charge Controller, baterai akan rusak oleh overcharging dan ketidakstabilan tegangan.

Solar Home System di Wilayah Marga Belimbing






Gambar 2. Toko Penjual Solar Home System di Pasar Way Heni

Hampir semua rumah yang ada di wilayah Marga Belimbing sudah memiliki Solar Home System sendiri. Awal mula kehadiran teknologi ini adalah pada sekitar tahun 2010 ketika para aparat Pemerintah Desa mendapatkan bantuan seperangkat Solar Home System. Dari situ, masyarakat mulai mengenal teknologi tersebut. Awal mula yang memiliki teknologi tersebut adalah para aparat desa. Masyarakat hanya bisa melihatnya saja. Masyarakat pun menjadi saksi bahwa Solar Home System merupakan teknologi yang sangat praktis dalam operasi dan perawatannya. Pada sekitar tahun 2014, toko-toko di Pasar Way Heni (pasar yang terletak di Desa Sumber Rejo, pintu masuk menuju Wilayah Marga Belimbing) mulai menjual seperangkat Solar Home System. Barangkali, para penjual mulai melihat potensi pasar dalam menjual Solar Home System. Pada saat itu juga, masyarakat pun berbondong-bondong untuk memiliki Solar Home System. Apalagi ketika musim panen lada dan kopi tiba. Masyarakat memanfaatkan uang hasil penjualan hasil kebun mereka selama satu tahun untuk membeli seperangkat Solar Home System. Semenjak saat itu hingga sekarang, masyarakat sudah terbiasa dalam pemanfaatan energi listrik yang merupakan hasil konversi dari energi surya.





Gambar 3. Solar Home System di Wilayah Marga Belimbing

Solar Home System yang ada di masyarakat sangat bervariatif, baik dari segi kapasitas maupun kelengkapannya. Ada yang memiliki panel surya 50 Wp yang hanya digunakan untuk menghidupkan beban lampu penerangan saja. Ada yang memiliki panel surya berkapasitas 100 Wp yang hanya bisa digunakan untuk menyalakan televisi. Ada yang memiliki panel surya berkapasitas 200 Wp yang bisa digunakan untuk menghidupkan televisi berjam-jam. Dari segi kelengkapan teknologinya pun ada yang hanya memiliki panel surya dan baterai saja dengan beban lampu DC. Adapula yang memiliki Solar Home System lengkap mulai dari panel surya, baterai dan inverter.

Hampir tidak ada yang menggunakan kontroler dalam Solar Home System yang ada di masyarakat. Akibatnya adalah sering kali terjadi kerusakan komponen, khususnya baterai. Hal tersebut dikarenakan ketika kapasitas baterai sudah penuh, panel surya tetap mengisi baterai. Apalagi ketika hari sedang cerah-cerahnya, panel surya tetap bekerja dalam konversi energi surya menjadi listrik kemudian arus listrik mengalir ke baterai hingga penuh. Pada siang hari, saat mayoritas masyarakat pergi ke ladang beban listrik jarang sekali dihidupkan sehingga tidak ada konsumsi energi listrik pada siang hari. Sementara proses pengisian atau biasa disebut dengan istilah charging baterai tetap berlanjut. Kejadian tersebut biasa dinamakan overcharging. Hal tersebut menyebabkan rusaknya baterai. Hanya sedikit saja masyarakat yang menyadari akan hal tersebut. Banyak sekali temuan di masyarakat mengenai rusaknya baterai. Padahal harga baterai Solar Home System tidaklah murah. Mayoritas banyak yang harus mengganti baterai tersebut setiap tahun sekali.

Memang kehadiran energi listrik di masyarakat pedalaman tanpa ada arahan atau pendampingan dengan baik maka akan timbul berbagai kendala, baik secara teknis maupun nonteknis. Dari sisi teknis telah disampaikan sebelumnya, yaitu mengenai operasional dan perawatannya. Dari segi non teknis, hadirnya listrik di masyarakat berdampak kepada daya beli masyarakat terhadap alat-alat elektronika menjadi sangat tinggi. Banyak sekali masyarakat yang membeli peralatan elektronik seperti halnya televisi. Bukan berarti masyarakat di pedalaman tidak boleh menonton televisi. Poin utamanya adalah mengenai kesesuaian kapasitas energi listrik yang ada dengan beban listrik yang digunakan.



Gambar 4. Solar Home System di Musholla

Terlepas dari permasalahan-permasalahan tersebut. Mereka juga merupakan masyarakat yang berhak untuk mendapatkan akses energi listrik. Oleh karena itu, adanya teknologi Solar Home System atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya di pedesaan patut disyukuri. Gema adzan melalui pengeras suara di musholla pun bisa menggaung di tengah hutan berkat hadirnya energi listrik. Malam mereka pun sudah dihiasi dengan nyala lampu, setidaknya sebelum mereka tertidur untuk beristirahat setelah seharian penuh mereka beraktivitas di kebun mereka.

#15HariCeritaEnergi
#DiaryofPatriotEnergi

Referensi:

Kamis, 17 Agustus 2017

Energi Berkeadilan #1: Merdeka dengan Energi Terbarukan

Energi Berkeadilan #1: Merdeka dengan Energi Terbarukan

Banyak Daerah di Indonesia yang Tidak Terjangkau Energi Listrik

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km serta lebih dari 17.508 pulau. Wilayah Indonesia terbentang dari ujung barat di Pulau Weh, Sabang sampai di ujung timur di Merauke serta dari ujung utara di Pulau Miangas sampai ujung selatan di Pulau Dana yang berjarak 4 km dari Pulau Rote. Selain luasnya wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan, wilayah daratannya juga terbentang gunung-gunung dan perbukitan. Kondisi geografis yang seperti ini, menyebabkan tidak semua permukiman (daerah yang menjadi tempat tinggal) dapat terakses oleh berbagai infrastruktur dengan baik. Salah satunya adalah akses terhadap jaringan listrik. Banyak daerah yang belum terjangkau oleh jaringan listrik. Berdasarkan data yang didapat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada saat ini terdapat 2.519 desa atau 293.532 rumah yang masih gelap gulita dikarenakan belum terjangkau oleh jaringan listrik.

Kawasan Terisolir Marga Belimbing


Gambar 1. Lokasi Way Haru

Salah satu kawasan yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik adalah kawasan empat desa yang berada di Kecamatan Bengkunat Belimbing, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Empat desa tersebut adalah Bandar Dalam, Way Haru, Way Tias dan Siring Gading. Kawasan tersebut biasa disebut dengan Kawasan Marga Belimbing dikarenakan penduduk asli yang berdiam di daerah tersebut adalah Suku Lampung dengan Marga Belimbing. Selain penduduk asli, sekarang banyak sekali pendatang dari berbagai macam suku yang tinggal di kawasan Marga Belimbing. Empat desa ini berjarak sekitar 25 km dari pusat Kecamatan Bengkunat Belimbing. Kawasan empat desa tersebut tepatnya berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di sebelah timur, selatan dan utara serta berbatasan dengan Samudera Hindia di sebelah barat. Bisa dikatakan daerah tersebut merupakan daerah terisolir dikarenakan belum ada jalan yang tembus ke daerah tersebut. Sampai saat ini pembangunan jalan belum mencapai setengah dari total jarak yang harus dilalui. Sisanya merupakan semak belukar, serta melewati pesisir pantai bertebing. Oleh karena itu, untuk mencapai daerah tersebut harus memperhatikan jadwal pasang surut air laut agar celah antara tebing dan air laut memungkinkan untuk dilewati.

Untuk menuju daerah tersebut, moda transportasi yang bisa digunakan adalah sepeda motor yang dimodif dengan sedemikian rupa sehingga bisa melewati jalanan berlumpur, semak belukar, melewati tepian pantai serta menyeberangi muara. Moda transportasi yang lain adalah gerobak sapi. Masyarakat sendiri kebanyakan memilih untuk berjalan kaki untuk keluar-masuk wilayah tersebut. Sementara, sepeda motor dan gerobak sapi digunakan untuk mengangkut hasil pertanian untuk dijual di Pasar Way Heni (pasar yang terletak di pinggir Jalan Lintas Barat Sumatera) ketika keluar desa serta kembali ke desa dengan membawa barang belanjaan berupa kebutuhan pokok sehari-hari. Rutinitas tersebut mereka lakukan hampir setiap seminggu sekali. Sebenarnya, ada satu lagi alat transportasi yang bisa ditempuh yaitu menggunakan kapal laut. Namun, masyarakat sendiri jarang menempuh jalur tersebut karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan serta memang tidak ada kapal yang secara rutin berlalu lalang dari Pelabuhan Kota Jawa menuju tepian pantai Way Haru. Pelabuhan Kota Jawa merupakan pelabuhan yang terletak sekitar 5 km dari pusat Kecamatan Bengkunat Belimbing. Tepian Pantai Way Haru yang biasa digunakan untuk bersandar kapal, hanyalah sebuah tepian pantai tanpa dermaga.



Gambar 2. Akses Transportasi Menuju Kawasan

Kondisi tersebut mengakibatkan kawasan tersebut terisolir baik dari akses jalan apalagi dari segi infrastruktur pembangkit listrik. Mau tidak mau, jika daerah tersebut menginginkan adanya energi listrik, maka harus terdapat pembangkit listrik sendiri di kawasan tersebut. Pembangkit listrik yang biasa digunakan di daerah terisolir adalah mesin generator set atau yang biasa disebut dengan genset. Penggunaan genset sangat tergantung dengan ketersediaan bahan bakar yang tentunya stoknya sangat terbatas di kawasan terisolir. Oleh karena itu, penggunaan genset sebagai pembangkit listrik di kawasan terisolir juga tidak sepenuhnya bisa menjadi solusi yang tepat untuk membangkitkan listrik di kawasan terisolir belum lagi harga bahan bakar yang akan sangat mahal.

Energi Terbarukan sebagai Solusi Ketersediaan Energi Listrik di Wilayah Terisolir

Indonesia yang terletak di daerah tropis dan dilewati oleh garis khatulistiwa menyebabkan hampir sepanjang tahun disinari oleh cahaya matahari. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar. Berdasarkan data Kementrian ESDM pada tahun 2011 potensi rata-rata radiasi surya di Indonesia adalah sekitar 4,8 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Energi surya merupakan salah satu bentuk dari energi terbarukan. Artinya adalah energi tersebut akan terus ada karena sifatnya yang bisa diperbaharui. Pemanfaatan energi terbarukan yang maksimal bisa menjadi solusi krisis energi yang terjadi di Indonesia, terutama di daerah-daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Hidayatullah (2012) menyatakan bahwa beberapa keuntungan yang diperoleh dari energi surya, antara lain:
1. Bersih, ramah lingkungan
2. Energi terbarukan, tidak akan habis
3. Panel surya memiliki umur yang panjang/investasi jangka panjang
4. Sangat cocok untuk iklim tropis seperti Indonesia
5. Mudah dipasang dan dirawat
6. Awet, bandel, tahan cuaca

Berdasarkan keunggulan-keunggulan tersebut, salah satu alternatif dalam menghadirkan energi listrik di daerah yang termasuk dalam daerah terisolir adalah dengan pemanfaatan energi surya. Untuk mengubah energi surya menjadi energi listrik dibutuhkan seperangkat peralatan yang disebut dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Pada tahun 2016, Kementrian ESDM memiliki program berupa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat (PLTS Terpusat) di beberapa wilayah terisolir di Indonesia. Di wilayah Marga Belimbing terdapat empat proyek pembangunan PLTS Terpusat yang berada di Way Haru dan Bandar Dalam dengan kapasitas masing-masing adalah 75 kWp serta di Way Tias dan Siring Gading dengan kapasitas masing-masing adalah 30 kWp. Program PLTS terpusat tersebut merupakan suatu upaya Pemerintah dalam menghadirkan energi listrik di daerah terisolir. Namun, untuk mewujudkan PLTS Terpusat dibutuhkan kerja sama dari semua pihak, khususnya masyarakat sasaran yang akan memanfaatkan energi listrik tersebut. Harapannya adalah energi listrik dapat dirasakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia dimanapun mereka berada. Pembangunan PLTS Terpusat di kawasan Marga Belimbing bukanlah sebuah perkara yang mudah dikarenakan sangat terbatasnya akses transportasi untuk menjangkau daerah tersebut. Apalagi peralatan PLTS Terpusat jumlahnya sangat banyak. Beberapa komponen berdimensi sangat besar dan berbobot sangat berat. Untuk menghadirkan kemerdekaan berenergi memang butuh perjuangan, seperti para pendahulu bangsa dalam mewujudkan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Gambar 3. PLTS di Desa Siring Gading

~~~bersambung
#15HariCeritaEnergi
#DiaryofPatriotEnergi

Referensi:
Hidayatullah, Ahmad Fahmi. 2012. Skripsi: Rancang Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Matahari untuk Pembuatan Es di Pantai Baru, Desa Poncosari, Bantul. Yogyakarta: Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada.

Rabu, 22 Maret 2017

Konservasi Air di Bangunan Modern: Langkah Menjaga Air untuk Masa Depan



Pada zaman sekarang ini, tren pembangunan gedung maupun bangunan sangat menjamur, terlebih di daerah perkotaan. Proyek pembangunan mall, hotel, apartemen, serta gedung-gedung bertingkat lainnya sangat banyak dijumpai di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Pro dan kontra pun hadir seiring dengan fenomena menjamurnya bangunan-bangunan tersebut. Salah satu yang menjadi pro dan kontra adalah bagaimana keberadaan bangunan tersebut dengan cadangan air yang ada di daerah tersebut. Keberadaan bangunan tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari potensi penggunaan air bersih di suatu daerah. Semakin besar kapasitas bangunan tersebut otomatis keperluan akan air bersihnya pun meningkat. Jika tidak direncanakan dan dikelola dengan baik, operasional bangunan tersebut berpotensi untuk mengancam ketersediaan air bersih di daerah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu langkah yang tepat dalam penggunaan air bersih pada bangunan-bangunan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan konservasi air.

Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk kegiatan seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang dapat merusak serta tersedianya air pada musim kemarau. Konservasi air bukan berarti mengurangi penggunaan air, melainkan mempergunakan air dengan bijaksana yang disesuaikan dengan fungsi kemanfaatan air. Usaha konservasi air bertujuan untuk:
1. menjamin ketersediaan untuk generasi masa depan, pengurangan air segar dari sebuah ekosistem tidak akan melewati nilai penggantian alamiahnya;
2. penghematan energi dalam hal pemompaan air, pengiriman dan fasilitas pengolahan air limbah;
3. konservasi habitat.

Penggunaan Air Bersih di Bangunan
Penggunaan air bersih pada gedung secara umum adalah untuk mengakomodasi aktivitas-aktivitas konsumsi, antara lain meliputi konsumsi untuk minum, memasak, aktivitas kebersihan, sampai dengan aktivitas pemeliharaan seperti penyiraman tanaman dalam ruang dan irigasi untuk lanskap. Pasokan air bersih yang digunakan berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan sumur tanah dalam. Gedung yang ramah lingkungan tidak hanya terkait fisik bangunan, tetapi antara lain juga terkait penggunaan air bersih gedung dalam mendukung aktivitas penggunanya. Salah satu aspek yang diperhatikan dalam perangkat penilaian gedung ramah lingkungan, khususnya greenship adalah kategori penghematan air bersih pada gedung.

Penghematan air bersih dapat ditinjau dari beberapa hal seperti terdapatnya sistem kontrol dan monitoring air, penggunaan alat keluaran air yang hemat air, penggunaan air daur ulang hingga pada penggunaan air alternatif seperti air hujan. Kesadaran akan terbatasnya air dan pentingnya penghematan air mendukung berkembangnya pilihan dalam menghemat air. Kampanye hemat air merupakan salah satu upaya untuk melibatkan pengguna gedung agar turut serta berperilaku bijak dalam mengonsumsi air.

Selain menanamkan kesadaran mengenai pentingnya menghemat air, pengurangan jumlah penggunaan air juga dapat didorong oleh pihak manajemen gedung dengan pengadaan alat penggunaan air yang efisien. Contoh-contoh peralatan tersebut adalah sebagai berikut
1.        Kloset yang Memiliki Fitur Flush
Sistem flush memungkinkan penyiraman otomatis dengan satu kali gerakan oleh pengguna pada bagian tertentu dari kloset. Keunggulan dari sistem kloset ini adalah penggunaan air yang lebih efisien. Ada dua pilihan sistem flush, yaitu single flush dan dual flush. Tipe single flush ada yang menggunakan tombol dan ada juga yang menggunakan sistem tongkat ditarik ke atas. Sistem tongkat umumnya ditemui pada kloset dengan model klasik. Tipe kedua adalah dual flush yang kini lebih sering ditemui pada toilet modern. Pada umumnya sistem dual flush menggunakan perbandingan 3:6 liter di mana tombol kecil mengeluarkan 3 liter air dan tombol besar mengeluarkan 6 liter air. Dalam perkembangannya, beberapa produsen toilet menawarkan sistem 3:4,5 liter untuk sistem dual flush. Bahkan, dengan teknologi terbaru, kloset duduk ada yang memiliki sistem flush yang lebih irit air, yakni 2,3:4,8 liter.
Skema kerja dari kloset dual flush dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini. Dalam gambar tersebut terdapat dua mekanisme flush, pertama adalah half flush yang digunakan untuk penyiraman dengan kebutuhan air yang sedikit. Kedua adalah full flush yang digunakan untuk keperluan penyiraman dengan kebutuhan air yang banyak.



2.        Automatic Water Tap
Automatic water tap atau yang biasa disebut dengan kran air otomatis adalah kran air yang dilengkapi dengan sensor pendeteksi keberadaan objek. Kran ini secara otomatis akan mengeluarkan air pada saat tangan ditempatkan di bawah lubang air. Penggunaan kran air otomatis dapat membantu pengehematan dalam penggunaan air. Gambar 3 merupakan salah satu contoh dari kran air otomatis. Kran tersebut menggunakan sensor infrared untuk mendeteksi keberadaan tangan yang akan dicuci.

Skema kerja kran otomatis seperti yang ada pada Gambar 3 adalah sebagai berikut. Sebuah objek (misalnya: tangan yang akan dicuci) '1' memasuki zona jangkauan sensor '2'. Rentang jangkauan sensor infra merah tersebut adalah sekitar 20-26 cm. Sensor infra merah '3' mendeteksi objek dan mengirimkan sinyal elektronik ke katup solenoid '5' (di dalam kotak kontrol) melalui kabel sinyal sensor '4'. Katup solenoid membuka sehingga air mengalir melalui '6', selanjutnya air dialirkan melalui selang ‘7’ menuju ke lubang kran dan dimanfaatkan oleh pengguna  '8'.




Keunggulan dari penggunaan kran otomatis adalah penghematan penggunaan air sesuai dengan kebutuhan. Rata-rata keuntungan atas investasi kran air otomatis adalah sekitar 30 persen. Semakin tinggi biaya air, semakin cepat masa pengembalian investasi alat tersebut. Semakin rendah biaya air, semakin lambat masa pengembalian investasi alat tersebut. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian investasi (payback periode) adalah sekitar 3-6 bulan.

Pembangunan bangunan-bangunan modern hendaknya diimbangi dengan upaya konservasi air. Dengan dilakukannya kegiatan konservasi air, dalam artikel ini tentang penggunaan air dalam gedung-gedung modern, diharapkan dapat menjaga kualitas air untuk generasi yang akan datang. Konservasi air yang baik dapat membantu generasi yang akan datang agar dapat menikmati air yang berkualitas.

#WorldWaterDay
#HariAirSedunia

Referensi:
[1] Estuningsih, Siti. 2014. Diakses dari: Giliran Apartemen Bikin Resah. https://daerah.sindonews.com/read/918636/151/giliran-apartemen-bikin-resah-1414916572 pada tanggal 20 Maret 2017.
[2] Sukrianto, T. 1990. Analisis Keberhasilan Kegiatan Konservasi Tanah dan Air dalam Rangka Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
[3] Ardhana, Zhauhar Rainaldy . 2014. Perancangan Waste Water Management (WWM) dan Penyusunan Petunjuk Teknis Greenship Kategori Konservasi Air (Studi Kasus Hotel Novotel Yogyakarta). Yogyakarta: Jurusan Teknik Fisika, Universitas Gadjah Mada.
[4] Sofyan, Aghnia. 2013. Kloset "Flush" yang Makin Efisien. Diakses dari: http://properti.kompas.com/read/2013/09/02/1210439/Kloset.Flush.yang.Makin.Efisien pada tanggal 20 Maret 2017.
[5] Autotaps. 2015. How Automatic Sensor Tap Works. Diakses dari http://www.autotaps.com/how-automatic-tap-work.html pada tanggal 20 Maret 2017.

Senin, 24 Oktober 2016

Sehari Sebelum Menuju Desa Pekon

Kecamatan Bengkunat Belimbing merupakan pemekaran dari Kecamatan Bengkunat sejak tanggal 31 Mei 2007. Oleh karena itu, dua kecamatan ini terletak berdekatan. Kalau berjalan dari arah Kota Agung, maka akan dijumpai terlebih dahulu Kecamatan Bengkunat Belimbing. Sebaliknya, jika berjalan dari arah Krui, maka yang akan dijumpai terlebih dahulu adalah Kecamatan Bengkunat. Kata beberapa orang, nama Kecamatan Bengkunat diambil dari nama sebuah Marga, yaitu Marga “Bang Kunat”. Nama Bengkunat Belimbing sendiri merupakan perpaduan antara dua nama Marga, yaitu Marga Bengkunat dan Marga Belimbing. Sebelum masuk ke empat pekon, kami berada terlebih dahulu di Pekon Sukajaya Kecamatan Bengkunat. Tepat satu hari sebelum masuk kami berada di Pekon Sumber Rejo, Kecamatan Bengkunat Belimbing. Di Pekon tersebut terdapat sebuah pasar, tempat terjadinya transaksi jual beli kebutuhan hidup maupun hasil pertanian. Pasar tersebut adalah pasar Way Heni yang hari pasarannya adalah Selasa dan Kamis.
Selama di Way Heni, dari barang bawaan kami serta tingkah laku kami menandakan bahwa kami adalah pendatang. Penyamaran kami pun gagal, kami masih belum bisa berpenampilan seperti warlok (warga lokal). Maklum saja kami tidak berbakat dalam dunia per-akting-an. Dengan begitu, setiap kami bertemu dengan orang mesti kami ditanya akan kemana. Mulai dari penjual pulsa, warung kelontong maupun pedagang pasar melontarkan pertanyaan yang hampir sama. Sontak kami akan menjawab bahwa kami akan menuju “Way Haru”. Masyarakat di luar empat pekon memang lebih akrab dengan nama “Way Haru” dibanding dengan Bandar Dalam, Siring Gading dan Way Tias. Maklum saja bahwa pribumi yang menempati wilayah Marga Belimbing adalah orang-orang Way Haru. Ada yang mengatakan bahwa Bandar Dalam merupakan pindahan dari daerah Belimbing atau Pengekahan akibat gusuran kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Sementara, Way Tias dan Siring Gading merupakan pemekaran dari Way Haru.
Mendengar kata “Way Haru” banyak sekali cerita dengan segala bumbu-bumbunya. Ada yang mengatakan bahwa di daerah tersebut masih 100 % penduduk asli. Ada pula yang mengatakan masih banyaknya satwa buas nan liar seperti: monyet, babi, gajah, harimau, buaya dan lain sebagainya. Maklum saja empat pekon tersebut terletak di antara Samudera Hindia dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).
Yang agak ngeri adalah “racun”. Banyak orang yang mewanti-wanti kepada kami agar waspada pada saat bertamu. “Racun” tersebut biasanya dicampur dalam minuman yang disajikan. Ciri-ciri minuman yang disajikan telah dicampur dengan racun adalah jika bagian bawah gelas dingin namun bagian pinggir panas atau sebaliknya. Yang lain lagi ada yang mengatakan bahwa daerah yang akan kami datangi merupakan daerah tempat pelarian para buronan, seperti bandar narkoba, pelaku teroris dan lain sebagainya.
Ada juga kabar baik bahwa nantinya kita akan menemui ikan dengan sangat murah bahkan gratis karena lokasinya yang berada di tepian Samudera Hindia. Kabar baik lainnya adalah banyaknya buah-buahan seperti durian dan duku yang akan dijumpai, seperti banyaknya rambutan pada saat musimnya di Sleman, Yogyakarta. Mari buktikan sendiri saja ketika di lokasi. Pikir kami, tentunya dengan mengharapkan yang terbaik agar terhindar dari hal-hal yang buruk.

Rabu pagi tanggal 27 Juli 2016, empat motor ojek yang akrab disebut dengan “Grandong” telah siap mengantarkan kami untuk melewati tepian pantai yang terletak di ujung barat daya Pulau Sumatera demi menuju empat pekon terisolir. Kami pun berangkat. 

Kota Agung dan Krui


Berjarak sekitar 105 km arah barat daya Bandar Lampung yang dapat ditempuh dengan mobil selama 3 jam perjalanan, terdapat ibukota Kabupaten Tanggamus, Kota Agung namanya. Kesan pertama kali ketika sampai di Kota Agung adalah lengang, sunyi dan sepi, tidak seperti kebanyakan ibukota Kabupaten di Pulau Jawa. Pemandangan seperti ini sungguh sangat menentramkan. Suasananya jauh dari kesan padat, panas dan macet, khas seperti DKI Jakarta maupun kota-kota di sekitarnya. Di Kabupaten ini, Bang Arhy, Deny dan Ayu akan menjalani pengelanaan sunyinya. Bang Arhy ditempatkan di Pekon Karang Brak, Kecamatan Pematang Sawa; Ayu akan berkelana di Pekon Guring, Kecamatan Pematang Sawa; sementara Deny akan menjumpai rumah barunya di Pekon Margomulyo, Kecamatan Semaka. Selama di Kota Agung, saya, Frida, Hisni dan Priska tidak banyak melakukan aktivitas. Sementara itu, Bang Arhy, Ayu dan Deny beberapa keluar menuju area Pemerintah Kabupaten Tanggamus.

Nantinya, Kota Agung akan menjadi tempat berkumpulnya kami bertujuh. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada akses yang lebih strategis, keterjangkauan serta dekat dengan pemenuhan kebutuhan di desa penempatan dibandingkan jika harus kumpul di Kota selanjutnya yang akan kami kunjungi, yaitu Krui. Kota Agung merupakan sebuah kota yang terletak di antara laut dan pegunungan. Di sebelah utara Kota Agung terdapat Gunung Tanggamus, sementara di sebelah selatannya merupakan Teluk Semaka.

Krui adalah ibukota dari Kabupaten Pesisir Barat.  Krui berjarak sekitar 149 km dari Kota Agung yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat melintasi Jalan Lintas Barat Sumatera. Untuk menuju Krui, akses kendaraan umum yang dapat digunakan adalah Bus Krui Putra dan Bus Merta Sari. Bus tersebut berangkat dari Terminal Raja Basa, Bandar Lampung, tetapi juga dapat naik melalui Kota Agung. Namun, jangan berharap Bus tersebut ada setiap waktu seperti kebanyakan angkutan umum yang ada di kota-kota besar di Jawa. Bus tersebut hanya melaju pada waktu-waktu tertentu saja karena jumlah armadanya yang sangat terbatas. Bisa dikatakan akses transportasi umum menuju Krui itu sangat susah. Selain itu, kondisi armada Bus Krui Putra maupun Mertasari juga dapat dibilang sudah agak tidak layak. Pesisir Barat merupakan kabupaten termuda di Provinsi Lampung, hasil pemekaran pada tahun 2012 dari Kabupaten Lampung Barat. Pesisir Barat merupakan buminya para Sai Batin. Sai Batin adalah sebutan ‘semacem’ raja pada setiap Marga yang ada dalam adat istiadat Lampung. Kabupaten Pesisir Barat memanjang dari tepian dari ujung selatan Way Haru sampai berbatasan dengan Provinsi Bengkulu di sebelah utaranya.


Nantinya, Krui merupakan tempat yang akan kami tuju, khususnya untuk keperluan administrasi maupun konsultasi berbagai dinas terkait. Tujuan kami selanjutnya adalah Kecamatan Bengkunat Belimbing yang sebenarnya terletak di antara Kota Agung dan Krui.