Senin, 19 Januari 2015

Wisata Green Industry (WGI) Ala Semen Indonesia: “Mengapa Harus Green Industry?”


Gambar 1. Wisata Green Industry 2014

Kegiatan ini merupakan sebuah sarana edukasi bagi masyarakat umum mengenai kinerja PT Semen Indonesia sebagai perusahaan yang mementingkan aspek green dalam menjalankan bisnisnya beserta peran perusahaan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). Di tengah berbagai kontroversi tentang pembangunan industri yang berbasiskan pertambangan, seperti kasus yang terjadi di Rembang mengenai rencana PT Semen Indonesia untuk membangun pabrik di daerah tersebut, PT Semen Indonesia berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa proses produksi yang mereka lakukan bersahabat dengan alam. Mengenai green industry itu sendiri, PT Semen Indonesia mendapatkan berbagai penghargaan terkait usahanya dalam efisiensi & konservasi energi, pengelolaaan limbah B3 dan non B3, konservasi air dan menumbuh kembangkan keanekaragaman hayati. Usaha-usaha PT Semen Indonesia tersebut dapat dibaca pada sesi kunjungan pabrik yang terletak di Kabupaten Tuban. Dalam WGI yang berlangsung pada tanggal 13 Desember 2014, diperlihatkan secara langsung usaha PT Semen Indonesia dalam mewujudkan green industry. Ada dua lokasi yang dikunjungi dalam Wisata Green Industry kali ini, sebagai berikut.

1. R & D Handicraft: UKM Binaan PT Semen Indonesia

Gambar 2. R & D Handicraft

UKM yang terletak di Kabupaten Lamongan ini bergerak di bidang industri kreatif, lebih tepatnya mengenai pembuatan berbagai macam jenis tas, sepatu, tikar dan beberapa souvenir yang lainnya. Salah satu yang khas dalam pengembangan UKM ini adalah kerjasamanya dengan beberapa rumah tangga dalam penyediaan bahan baku berupa jalinan serat-serat enceng gondok sebagai bahan utama pembuatan tikar maupun tas. Selain menggunakan bahan baku enceng gondok, R & D juga menggunakan karung goni, daun pandan serta tempurung kelapa. Penggunaan bahan baku yang kebanyakan berasal dari bahan alami inilah yang menjadi branding dari R & D. Jika dilihat secara sepintas, show room yang dimiliki memang tidak begitu besar, namun siapa sangka bahwa UKM ini memiliki omset sekitar Rp. 700 juta dalam satu bulan dan memiliki sekitar 60an karyawan.


Gambar 3. Beberapa Produk di Show Room R & D Handicraft

Dalam menjalankan bisnisnya, bukan hanya sekedar berdasar jumlah pesanan dari produsen yang menjadi pertimbangan dalam mengirimkan produknya, namun komitmen rekanan bisnis juga menjadi pertimbangan dalam bekerja sama dengan pelanggannya. Pemilik lebih mementingkan konsumen yang memesan secara rutin dalam jangka waktu tertentu, sehingga omset keuntungannya dapat terjaga dengan konstan bahkan ditingkatkan lagi. Sementara, prinsip yang dijunjung oleh R & D dalam mengembangkan bisnisnya adalah jujur, pinter lan kendel. Jujur merupakan aspek yang sangat penting karena berkaitan dengan Tuhan Yang Mahakuasa serta kepercayaan dari pelanggan. Pinter berperan dalam kekreatifan pemilik akan inovasi dan variasi barang produksinya sehingga pelangan tidak bosan terhadap produk yang dihasilkan. Kendel yang dalam Bahasa Indonesia berarti “berani” adalah aspek yang dibutuhkan dalam menampilkan produknya untuk bersaing dengan produk-produk lain yang sejenis.


Gambar 4. Mitra Binaan Semen Gresik

Kemudian, apa peran PT Semen Indonesia dalam membantu mengembangkan UKM ini? PT Semen Indonesia melalui kegiatan Corporation Social Responsibility (CSR) memberikan pendampingan, pelatihan, hingga perluasan akses pasar melalui fasilitas promosi dan pameran bagi para UKM. Menurut keterangan yang disampaikan oleh Bapak Dody Arimawanto, pemilik R & D, kesempatan yang diberikan oleh PT Semen Indonesia untuk mengikuti pameran, baik yang berskala provinsi, nasional bahkan internasional, menjadikan R & D memiliki banyak pelanggan yang berasal dari daerah luar Lamongan bahkan hingga luar negeri, misalnya Arab Saudi dan Hongkong. Bentuk promosi melalui pameran ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengorbitkan produk-produk R & D. Tidak mengherankan jika di beberapa daerah wisata di Indonesia, seperti Bali dan Yogyakarta, terdapat produk-produk tas berbahan baku enceng gondok buatan R & D. Jangan heran lagi, jika misalnya saat membeli souvenir tas di Arab Saudi pada musim umroh atau haji menemukan produk-produk dari R & D.

2. Pabrik Semen Indonesia yang Berada di Tuban
Pabrik yang ada di Tuban adalah sebuah kompleks pabrik beserta dengan area pertambangan batu kapur dan tanah liat, area konservasi air serta (tidak ketinggalan) lahan pertanian yang dimanfaatkan oleh warga sekitar pabrik. Ketika memasuki area ini, secara sepintas terlihat beberapa bangunan yang tinggi menjulang di antara pepohonan yang lainnya. Bangunan berwarna putih dengan berbagai bentuk menjadi penanda pertama memasuki area pabrik. Wisata Green Industry akan menjawab mengapa PT Semen Indonesia mendapatkan berbagai penghargaan yang berkaitan dengan konsep green industry.


Gambar 5. Selamat Datang di Pabrik Semen Indonesia, Tuban

Tempat pertama yang dikunjungi adalah jalanan menuju area pertambangan tanah liat. Sepanjang jalanan ini terdapat pepohonan yang sangat rindang. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Pemandu dalam WGI, selain sebagai penghijauan kawasan, pepohonan tersebut berfungsi sebagai penyerap polusi yang diakibatkan oleh proses produksi semen maupun akibat dari lalu lalang kendaraan pengangkut batu kapur dan tanah liat. Setelah dicari informasinya lebih lanjut, pepohonan tersebut adalah tanaman trembesi. Tanaman dengan julukan ”Ki Hujan” ini memiliki bentuk seperti payung yang membuat teduh dan asri area jalanan ini. Trembesi juga memiliki kemampuan mereduksi CO2 lebih besar dibandingkan pohon lain serta dapat menyerap air tanah dengan sangat kuat.



Lebih jauh lagi, terdapat lahan persawahan yang digunakan oleh penduduk sekitar untuk bercocok tanam. Air yang digunakan oleh para petani berasal dari embung yang terletak tidak jauh dari areal persawahan. Embung air tersebut juga berfungsi sebagai sumber air bagi berlangsungnya proses produksi pabrik dan kebutuhan air lainnya. Embung tersebut menjadi sangat penting keberadaannya bagi pabrik maupun masyarakat sekitar yang memiliki area persawahan.



Masih dari penjelasan yang disampaikan oleh Pemandu WGI, Embung tersebut merupakan bekas tempat penambangan tanah liat yang dirancang oleh PT Semen Indonesia sebagai sumber air pabrik beserta pertanian di sekitar pabrik. Produk salah satu bentuk penanganan area bekas tambang tersebut menjadi berkah tersendiri bagi para petani di lingkungan pabrik. Pada mulanya, para petani hanya panen satu kali dalam setahun karena hanya memanfaatan pengairan ketika musim hujan. Setelah adanya embung tersebut, Para petani bisa panen lebih dari satu kali dalam setahun. Di sisi lain, PT Semen Indonesia juga melakukan pengawasan kondisi mata air alami yang berada di sekitar area pertambangan. Pengawasan tersebut bertujuan agar kondisi mata air alami yang berada di sekitar area pertambangan tidak terganggu atau bahkan rusak oleh keberadaan aktivitas pertambangan. Pengawasan tersebut meliputi ketinggian air, debit air, kandungan fisik dan kimia air.
Usaha-usaha PT Semen Indonesia, mulai dari penanaman berbagai keanekaragaman hayati serta usahanya dalam konservasi air merupakan komitmen terhadap salah satu aspek green industry, yaitu: konservasi air dan menumbuh kembangkan keanekaragaman hayati.
Tempat kedua yang dikunjungi adalah area pabrik. Seperti yang sudah disampaikan, pada awal jumpa pertama dengan area pabrik, pemandangan yang sangat menonjol adalah bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di antara pepohonan. Kali ini, bangunan-bangunan tersebut dapat dilihat dari jarak yang sangat dekat. Bangunan-bangunan tersebut merupakan tempat pengolahan bahan baku berupa tanah liat dan batu kapur menjadi produk semen. Nampak sedikit ada butiran-butiran debu beterbangan yang merupakan serbuk semen. Oleh karena itu, dalam area pabrik ini para pengunjung dilengkapi dengan masker serta helm sebagai salah satu perlengkapan safety.


Sebelum mendekat ke arah plan pabrik, pengunjung akan disambut oleh tugu yang tepat berada di persimpangan jalan sebagai simbolisasi pabrik ini. Pabrik di Tuban terdiri dari berbagai plan utama seperti crusher sebagai tempat penghancuran bahan baku, tempat penyimpanan bahan baku, raw mill sebagai tempat penggilingan dan pengeringan bahan baku, blending silo sebagai tempat pencampuran dan homogenisasi bahan baku. Kemudian ada pre-heater yang digunakan untuk pemanasan awal, rotary kiln yang digunakan untuk pembakaran, pendinginan menggunakan clinker, ball mill untuk penggilingan akhir serta packer untuk membungkus semen yang sudah siap didistribusikan. Plan-plan tersebut terangkum secara megah di kompleks bangunan pabrik dengan diselingi beberapa pohon.
Dalam operasionalnya, plan-plan tersebut membutuhkan energi, seperti bahan bakar maupun energi listrik. Khusus energi listrik, untuk mengurangi ketergantungan listrik dari PLN, Semen Indonesia membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan panas gas buang atau biasa disebut dengan Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG). Pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan panas buang ini merupakan salah satu usaha penghematan pengeluaran perusahaan sekaligus dalam rangka untuk mengurangi ketergantungan terhadap listrik yang berasal dari bahan bakar tak terbarukan. WHRPG juga berperan dalam pengurangan emisi gas CO2 akibat penggunaan bahan bakar tak terbarukan serta pengurangan emisi gas buang ke udara sekitar. Selain digunakan sebagai bahan baku pembangkit listrik, panas buang tersebut juga digunakan untuk pengeringan bahan baku. Lain lagi pada proses pembakaran, pabrik di Tuban menggunakan berbagai macam bahan biomassa yang berasal dari limbah pertanian, seperti (sekam padi, bongkol jagung dan sabut kelapa, serta limbah industri kayu dan industri tembakau, sebagai pengganti batu bara. Pemanfaatan limbah-limbah tersebut (panas buang serta biomassa) merupakan salah satu pemenuhan aspek green industry, yaitu: efisiensi & konservasi energi.


Gambar 9. Debu Membuatku Menjadi Abu-Abu (?)

Begitu halnya industri yang lain, pabrik semen ini juga menghasilkan limbah. Menurut laporan kinerja perusahaan, sekitar 60 % limbah yang dihasilkan mampu diubah menjadi energi, 30 % menjadi pupuk, 10 % terbuang menjadi timbunan. Salah satu limbah yang sebenarnya merupakan produk semen adalah debu-debu yang beterbangan di area pabrik. Menurut pemandu WGI, semakin banyak debu-debu tersebut beterbangan berarti semakin banyak uang yang terbuang secara sia-sia. Debu tersebut merupakan sumber uang pabrik selain tentunya menjadi polusi bagi para pekerja. Nampak jelas butir-butir debu beterbangan yang bisa dengan mudah diindera oleh mata para pengunjung. Barangkali, debu-debu tersebut yang membuat bangunan-bangunan pabrik berwarna abu-abu. Untuk menanggulanginya, ada beberapa usaha yang telah dilakukan oleh perusahaan. Salah satunya adalah dengan memasang alat seperti cyclone, conditioning tower, bag house filter serta electrostatic precisipator. Alat tersebut berfungsi untuk meminimalisir serbuk semen yang berterbangan keluar dari plan. Langkah lain adalah dengan menanam beberapa pohon di sekitar plan.

Sementara itu, pada dapur pembakaran pada proses co processing yang bersuhu mencapai 1400 oC digunakan untuk membakar limbah jenis logam berat (limbah B3) sehingga menjadi senyawa oksida yang tidak membahayakan lingkungan, namun dapat meningkatkan kualitas semen yang dihasilkan. Limbah B3 yang lain, berupa pelumas bekas, dikelola dengan pemanfaatan kembali untuk pelumasan peralatan pabrik yang tidak memerlukan minyak pelumas berkualitas baik. Sedangkan pelumas bekas yang tidak lagi bisa dimanfaatkan lagi serta minyak gemuk bekas pakai, akan dicampur dengan oil sludge untuk dibakar dan digunakan sebagai alternatif bahan bakar. Sementara, limbah padat yang tidak termasuk kategori B3 berupa material rusak (material dari proses produksi semen pembuatan semen yang gagal) dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Pengolahan limbah-limbah tersebut melengkapi persyaratan pengelolaaan limbah B3 dan non B3 sehingga PT Semen Indonesia mendapat label green industry.
Selepas berkeliling di area pertambangan, konservasi air serta area pabrik, rombongan peserta menuju Semen Indonesia Corporate University-Center of Dynamic Learning. Di tempat yang merupakan pusat pembelajaran dan pembekalan di area pabrik Tuban ini, disampaikan mengenai PT Semen Indonesia secara garis besar, Rencana Pengembangan PT Semen Indonesia, serta yang tidak kalah menarik, yaitu Program CSR PT Semen Indonesia. Sebagai penutup Wisata Green Industry periode kali ini diisi dengan sesi tanya jawab serta pembagian hadiah.

Gambar 11. Mari Kita Diskusi

Banyak hal yang disampaikan oleh beberapa pembicara mengenai industri semen di Indonesia. Dari penjelasan mengenai Semen Indonesia secara umum, dapat diketahui bahwa PT Semen Indonesia merupakan salah satu industri semen yang terbesar di Asia Tenggara. Semen Indonesia sendiri terdiri dari Semen Padang, Semen Tonasa, Semen Gresik (termasuk di dalamnya pabrik Tuban) serta ekspansi bisnis ke Vietnam dengan akuisisi Than Long Cement. Kapasitas produksi Semen Indonesia akan semakin besar karena ada rencana untuk ekspansi bisnis dengan pendirian pabrik semen di Myanmar (meskipun masih terkendala dalam proses negosiasi akhir). Pada tahun 2016, Semen Indonesia juga menargetkan pembangunan pabrik di Timur Tengah dan Afrika dikarenakan permintaan produk yang sangat tinggi dari kawasan tersebut. Langkah-langkah tersebut merupakan suatu usaha perusahaan dalam menghadapi era ASEAN Economic Community (AEC) yang akan dimulai pada akhir 2015.  

Lain lagi di dalam negeri, Semen Indonesia berencana untuk menambah kapasitas produksinya dikarenakan kebutuhan semen di dalam negeri. Kebutuhan semen meningkat seiring dengan semangat pembangunan khususnya di daerah-daerah terpencil maupun perbatasan. Belum lagi, sebagai negara yang besar, ternyata rasio kebutuhan semen per orang di Indonesia sangat rendah, yaitu 223 kg/capita, jauh di bawah Tiongkok, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand. Oleh karena itu, PT Semen Indonesia berencana untuk menambah pabrik barunya, salah satunya berada di Rembang, Jawa Tengah.


Rencana pembangunan pabrik di Rembang tersebut ternyata menuai pro kontra. Kontra muncul dikarenakan timbulnya kekhawatiran dari masyarakat bahwa pembangunan pabrik akan banyak berdampak pada lingkungan, salah satunya keberadaan sumber air. Di sinilah barangkali salah satu manfaat kegiatan Wisata Green Industry ini, yaitu sebagai sarana untuk mengenalkan PT Semen Indonesia sebagai perusahaan yang tidak hanya berbasiskan keuntungan (profit) tetapi juga mementingkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar (people) dan peduli terhadap lingkungan (planet) dengan penggunaan teknologi yang bersahabat dengan alam. Profit, people dan planet merupakan slogan yang digunakan oleh PT Semen Indonesia dalam operasionalnya.




Pada sesi pengenalan rencana pembangunan pabrik baru di Rembang, diperlihatkan penggunaan teknologi yang modern yang ramah lingkungan dalam industri semen. Pabrik tersebut dirancang agar terjadi pengurangan konsumsi batubara, bahan bakar minyak dan listrik serta pengurangan emisi gas rumah kaca mencapai 80.000 ton CO2 per tahun. Rancangan pabrik dipresentasikan dengan animasi 3D yang sangat menarik dan mudah dipahami. Di samping proses otomasi pengiriman hasil tambang batu kapur dan tanah liat menggunakan sistem downhill long belt conveyor sehingga menghemat konsumsi listrik mencapai 20 % dibandingkan dengan desain standar, diperlihatkan juga proses penghijauan lahan pascapenambangan dengan sangat menarik. Penghijauan dilakukan dengan sistem blok dalam satu area penambangan. Jika penambangan pada satu blok selesai dilakukan, maka proses penghijauan langsung dilakukan. Sehingga, penghijauan dilakukan tanpa menunggu semua area penambangan gundul. Lain lagi dengan penggunaan teknologi, Semen Indonesia juga berencana untuk melibatkan sebanyak mungkin masyarakat sekitar pabrik untuk dijadikan karyawan PT Semen Indonesia. 
Terakhir, disampaikan mengenai program Corporation Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan terhadap kegiatan sosial masyarakat. Tujuan utama dari program CSR yang dilakukan adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satu contoh dari kegiatan CSR yang telah dilakukan adalah melakukan pembinaan UKM seperti yang telah dilakukan terhadap R & D Handicraft. Usut punya usut, ternyata ada sekitar 12 ribu mitra binaan dengan omset sekitar 800 Milliar. Selian itu, ada juga program Wirausaha Muda Kokoh yang merupakan program kompetisi wirausaha yang diselenggarakan oleh PT Semen Indonesia yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Program ini dikhususkan kepada para wirausahawan muda di Indonesia. Berbagai komitmen PT Semen Indonesia dalam menjalankan kewajiban CSR, antara lain di bidang pendidikan, permodalan, pelestarian lingkungan dan energi membuahkan hasil dengan diterimanya penghargaan Antaranews CSR Award pada tahun 2014.
Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh PT Semen Indonesia, baik yang dapat dilihat secara langsung pada kegiatan WGI ini maupun yang telah dijelaskan pada sesi diskusi, membuahkan hasil dengan diberikannya beberapa penghargaan, antara lain: penghargaan Green Award 2013 kategori perusahaan pelestari sumber daya air, pelestari energi terbarukan, pelestari keanekaragaman hayati, pelopor pencegahan polusi. Selain itu, Penghargaan kategori ASEAN Energy Management Award dan ASEAN Coal Award oleh ASEAN Center For Energy. Perusahaan juga meraih Proper Emas sebagai penghargaan tertinggi bidang lingkungan yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Jawaban atas pertanyaan “Mengapa harus green industry?” dapat terjawab oleh kegiatan WGI ini. WGI ini tentunya sangat bermanfaat dalam edukasi PT Semen Indonesia terhadap masyarakat. Edukasi ini diharapkan dapat membangun persepsi bahwasanya industri yang dibangun tidak melulu beroperasi hanya untuk kebutuhan manusia saja, namun untuk keberlangsungan alam untuk generasi selanjutnya. Akhirnya, penulis mengharapkan bahwa kegiatan ini dapat menginspirasi perusahaan maupun industri lain agar dapat mengedepankan prinsip green industry dalam operasionalnya. Tidak lupa, dengan diadakannya kegiatan ini secara rutin, diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi secara langsung mengenai operasionalnya sebuah perusahaan.
Salam GREEN INDUSTRY!!!


[1] Alamsyah, Ichsan E., 2014. Wow Semen Indonesia Memiliki 12ribu UKM Mitra Binaan. Diakses dari:

[2] CSR Semen Gresik. 2012 . Pengelolaan dan Pengolahan Limbah. Diakses dari: http://csrsemengresik.com/index.php/2012-05-25-11-44-21/pengelolaan-dan-pengolahan-limbah.

[3] Polakitan, Karel A. 2014. PT Semen Indonesia Mendapatkan Antaranews CSR Award. Diakses dari: http://www.antaranews.com/berita/445091/pt-semen-indonesia-raih-antaranews-csr-award 

[4] Semen Indonesia. 2014. Kinerja PT Semen Indonesia Persero Tbk Terus Meningkat Menunjukkan Keberhasilan Transformasi. Diakses dari: 

[5] Semen Indonesia. 2014. Pengembangan Proses. Diakses dari:

[6] Semen Indonesia. 2013. Presentation: The Prospect of Indonesia Cement Industry. Gresik: PT Semen Indonesia.

[7] Solecha, Dewi Zumrotus. 2014. AEC 2015, Semen Indonesia Ekspansi ke ASEAN dan Afrika. Diakses dari: http://surabayanews.co.id/2014/10/31/4986/aec-2015-semen-indonesia-lakukan-ekspansi-ke-asean-dan-afrika.html.

[8] Suara Pembaruan. 2014. Semen Indonesia Raih Penghargaan Green Industry. Diakses dari:


[9] Wikipedia. 2014. Ki Hujan. Diakses dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_hujan.

Selasa, 18 November 2014

Nyempil di Hamparan Samudera Kehidupan

Nyempil di Hamparan Samudera Kehidupan



Kita bagaikan satu butiran hujan di antara hujan gerimis yang mengguyur panasnya kota di hari ini.

Kita bagaikan satu butiran pasir di antara bertakhingga pasir yang terhampar indah di sebuah pantai berpasir putih.

Kita bagaikan sebuah buih yang terombang-ambing di tepian dermaga pelabuhan para nelayan di antara buih-buih yang terhampar di seluruh samudera yang menjadi bagian terbesar Bumi kita tercinta.

Kita hanya bagian kecil di Planet Bumi, sementara Bumi hanyalah bagian dari sistem tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya. Matahari sendiri bergerak mengelilingi pusat galaksi Bimasakti. Di luar Galaksi Bimasakti, masih banyak galaksi-galaksi lain yang bergerak bersama untuk mengelilingi pusat cluster-nya. Banyak sekali cluster-cluster yang menyusun alam semesta ini. Kita hanyalah bagian yang sangat kecil di alam semesta ini.

Sementara, seberapa besar pengorbanan yang telah kita lakukan? Bagi kehidupan ini? Bagi Alam semesta ini? Bagi Bumi ini? Bagi Negara tercinta ini? Bagi sekitar kita? Atau bahkan bagi diri sendiri?




Hujan, sebagai Pengingat


Hujan, sebagai Pengingat

Hujan mengingatkan akan banyak peristiwa di masa kecil. Pada waktu itu, sering sekali ‘mencuri-curi’ kesempatan agar bisa hujan-hujanan.  Main bola dan kejar-kejaran di sawah merupakan permainan yang sangat menarik pada waktu itu. Hujan merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi sebagian besar anak kecil, khususnya bagi yang hidup di desa yang di sana masih terdapat sawah-sawah. Sawah merupakan tempat favorit untuk sekedar bermain kejar-kejaran atau dorong-dorongan sampai lempar-lemparan lumpur. Hujan yang sangat favorit bagi anak-anak adalah hujan yang butir-butir airnya tidak sebesar biji jagung yang bisa membuat sakit jika terkena badan apalagi wajah. Tidak juga terlalu kecil, hanya gerimis, karena gerimis relatif lebih sering membuat demam. Hujan yang favorit juga terbebas dari guntur, petir dan angin. Suara guntur dan kilatan petir merupakan sebuah momok yang menakutkan bagi anak-anak yang biasanya jika kilatan petir dan gemuruh guntur datang, anak-anak langsung bersembunyi sambil merunduk serta menutup telinga dengan kedua tangannya. Hujan juga mengingatkan akan merdunya suara katak yang saling bersahutan. Belum lagi suara jangkrik beserta orong-orong yang menambah harmonis senandung alam di pedesaan. Hujan akan membuat semakin nikmat dalam menyeruput teh hangat serta menyantap potong pisang goreng atau kadang-kadang tempe mendo dengan beberapa buah cabai atau tela goreng jika dibandingkan dengan waktu-waktu yang lainnya. Hujan memang mengundang rindu akan masa kecil dan kampung halaman. Terkadang, kalau memang tidak bisa “mencuri” waktu untuk hujan-hujanan, masih ada permainan imajinasi yang mengasyikkan. Berdiri di bawah tepian atap rumah atau bisa dari balik jendela, lalu pandangi barisan rintik hujan yang jatuh dari atap rumah, maka kau akan merasakan seolah-olah sedang terbang ke angkasa.
Namun, hujan sekarang seakan-akan menjadi suatu penghambat, sewaktu-waktu kita mencela hanya karena takut basah jika mau bepergian. Atau sekedar kesulitan dalam menjemur pakaian. Atau dijadikan alasan untuk membatalkan suatu janji. Bahkan hujan dijadikan kambing hitam agar kita menjadi malas untuk mengerjakan sesuatu. Atau alasan-alasan lain yang mengatasnamakan hujan. Seakan-akan hujan itu menakutkan, padahal pada waktu kecil, hujan itu sangat mengasyikkan. Bagi para petani atau daerah-daerah lain yang mengandalkan air hanya dari air hujan dengan perlengkapan PAH (Penampungan Air Hujan)-nya hujan merupakan suatu anugerah yang sangat luar biasa. Hujan sangat berarti bagi mereka. Dengan datangnya musim hujan, maka tidak ada uang lagi yang dikeluarkan untuk membeli satu tangki air yang berisi 6.000 Liter seharga sekitar Rp. 150.000,00. Hujan juga menggemburkan tanah ladang milik mereka yang artinya adalah waktunya menanam padi. Bagi mereka, menanam padi hanya bisa dilakukan pada musim penghujan saja, satu kali selama satu tahun. Air gratis beserta waktu tanam padi bagi misalnya warga yang tinggal di daerah perbukitan karst di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul merupakan kenikmatan dari turunnya hujan.
Di sini, bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, hujan seakan-akan mengguyur panasnya suhu udara. Meredam suasana yang panas sepanjang hari, bahkan barangkali turut serta dalam meredam emosi yang berkecamuk di Ibukota. Memang tidak bisa dipungkiri, pada saat tertentu, bahkan banyak terjadi di kota-kota yang ada di Indonesia, hujan menjadi pemicu datangnya banjir. Beberapa daerah bahkan terkena banjir bandang. Tapi apakah itu karena hujan? Bukankah sebagian besar dari kita sering membuang sampah sembarang? Atau bahkan yang dijadikan tempat sampah adalah sungai, selokan, tempat saluran air? Lalu, bagaimana dengan terjadinya banjir bandang? Adakah yang pernah melakukan penebangan hutan secara sembarang? Adakah yang pernah melakukan sesuatu yang menyebabkan kerusakan hutan?

Hujan tak pernah salah, hujan turun sebagai rahmat dari-Nya. Hujan membasahi tanah-tanah yang kering sehingga menumbuhkan tanaman-tanaman. Dari tanaman tersebut, terbentuklah buah-buah atau yang lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Tiadalah pantas kita menghardik, mencerca, menyalahkan, mengkambinghitamkan hujan. Yang seharusnya kita lakukan adalah berdoa, bermunajat kepada Yang Mahakuasa, agar diturunkan hujan yang bermanfaat.


Sabtu, 25 Oktober 2014

Peran Teknologi Nuklir dalam Mendukung Era ASEAN Economic Community (AEC) 2015


Ilustrasi Nuklir [sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/teknologi-nuklir-tangsel-dilirik-organisasi-dunia-asal-korsel.html]

ASEAN Economic Community (AEC) 2015 merupakan suatu komunitas bagi negara-negara di kawasan ASEAN yang bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur, berdaya saing tinggi, dan secara ekonomi terintegrasi dengan regulasi efektif untuk perdagangan dan investasi. Teknologi nuklir memiliki peranan dalam beberapa sektor, antara lain: pertanian, peternakan, kesehatan dan infrastruktur. Teknologi nuklir berperan dalam meningkatkan kualitas produk maupun jasa yang sangat dituntut dalam persaingan AEC. Dalam AEC, suatu produk dituntut untuk memiliki kualitas yang unggul dan harganya dapat bersaing.
Dalam sektor industri pertanian dan peternakan, teknologi nuklir berperan dalam menghasilkan bibit-bibit pertanian yang unggul. Teknologi nuklir mampu menghasilkan padi dengan umur produksi lebih singkat, kuantitas panen tinggi, dan tak mudah rontok oleh serangan hama, seperti yang sudah berhasil dikembangkan oleh BATAN. Selain itu teknologi nuklir dapat digunakan untuk proses pengawetan makanan. Teknologi nuklir juga mampu untuk menghasilkan suplemen ternak yang dapat meningkatkan nafsu makan ternak, meningkatkan produksi dan reproduksi. Dari itu semua, nantinya didapatkan produk pertanian dan peternakan yang unggul sehingga dapat bersaing dalam aliran perdagangan di AEC.
Dalam bidang infrastruktur, teknologi nuklir berperan dalam pembangkitan energi listrik. Dalam pembangkitan energi listrik, PLTN merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, menggantikan pembangkit listrik yang selama ini memanfaatkan bahan bakar minyak maupun batu bara. Terlebih di Pulau Kalimantan, terdapat sekitar 70.000 ton uranium dan 117.000 ton Thorium yang merupakan bahan baku PLTN. Dengan memanfaatkan teknologi nuklir untuk membangkitkan listrik, diharapkan rasio elektrifikasi di dalam negeri dapat tercukupi sehingga menghindarkan Indonesia untuk membeli energi listrik dari negara tetangga. Selanjutnya, jika energi listrik di dalam negeri berlebih, maka dapat dijual ke negara-negara tetangga. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan dibangunnya jaringan listrik interkoneksi di seluruh penjuru ASEAN.
Di bidang kesehatan, radioisotop yang merupakan salah satu produk dari teknologi nuklir digunakan dalam dunia medis untuk mendeteksi suatu penyakit. Kebutuhan negara-negara di ASEAN akan radioisotop meningkat setiap hari. Indonesia melalui Industri Nuklir Indonesia (INUKI) mampu menghasilkan radioisotop dengan pengayaan tingkat rendah. Hal tersebut merupakan penemuan yang pertama di dunia, sehingga Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam menguasai pasar radioisotop, bukan hanya di kawasan ASEAN namun di seluruh dunia.

Peran teknologi nuklir tersebut diharapkan mampu untuk menyokong beberapa sektor dalam pelaksanaan AEC yang akan dimulai pada tahun 2015, khususnya bagi bangsa Indonesia sehingga Indonesia mampu menjadi salah satu negara produsen terbesar bukan hanya menjadi negara konsumen.

Jumat, 17 Oktober 2014

Ideku untuk PLN: Peran PLN dalam Mewujudkan Catur Dharma Energi

Ideku untuk PLN: Peran PLN dalam Mewujudkan Catur Dharma Energi


Gambar 1. Berbagai Respon Masyarakat dalam Menyikapi Pemadaman Listrik Melalui Media Twitter

Berdasarkan gambar 1, sangat beragam respon dari masyarakat dalam menyikapi pemadaman listrik yang dilakukan PLN.

“Mari hemat dalam menggunakan listrik, matikan lampu jika tidak digunakan.” Kurang lebih seperti itu bunyi iklan PLN dalam mengkampanyekan gerakan hemat energi listrik.

Satu hal yang unik adalah hanya Perusahaan Listrik Negara (PLN), pelaku bisnis yang menghimbau konsumennya agar tidak banyak-banyak menggunakan produk jasanya.


Gambar 2. Ribuan Warga Kabupaten Batang, Jawa Tengah Melakukan Aksi Menolak Rencana Pembangunan PLTU di Jalan 


Di saat kondisi ketersediaan pasokan listrik yang dimiliki oleh PLN kurang, secara otomatis akan dilakukan pemadaman listrik. Seketika, para pelanggan PLN melakukan protes. Seperti tidak melihat kondisi di luar sana, banyak pelanggan lain yang mengalami penyalaan listrik secara bergilir, bukan pemadaman bergilir dikarenakan waktu menyalanya listrik lebih sebentar dibanding mati listriknya. Bahkan, lebih banyak lagi (calon) pelanggan yang tidak menikmati nyalanya listrik PLN di daerah-daerah perbatasan maupun tertinggal di seluruh penjuru Nusantara. Parahnya, kondisi pasokan listrik PLN yang sangat terbatas tersebut tidak mempermudah PLN dalam pembangunan pembangkit baru. Terjadi penolakan dimana-mana apabila PLN ingin membangun pembangkit, seperti yang terjadi sekarang ini di Batang, Jawa Tengah (Lihat Gambar 2). Padahal sudah jelas bahwa pembangunan pembangkit listrik tersebut diperuntukkan bagi para konsumen listrik yang berstatus sebagai pendemo tersebut juga. Terjadi hal yang sangat kontradiktif, usaha PLN untuk memperbesar kapasitas pembangkitnya ditentang oleh para pelanggannya sendiri. Sekilas sebagai pembuka mengenai sesuatu yang dilematis bagi PLN.

Dalam rangka meningkatkan kualitas kinerja PLN, khususnya dalam kualitas pelayanan dan penyediaan listrik bagi masyarakat, perlu dilakukan berbagai upaya ataupun gagasan bagi PLN. Gagasan maupun upaya yang bisa dilakukan PLN dalam mengatasi berbagai kendala yang dihadapi yang berkaitan dengan penyediaan kapasitas energi listrik sejalan dengan Catur Dharma Energi (Kepmen ESDM No. 4051 K/07/MEM/2013) yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. PLN memiliki posisi yang strategis untuk membantu dalam mewujudkan Catur Dharma tersebut. Di Indonesia, tidak bisa dipungkiri bahwa listrik erat kaitannya dengan energi fosil. Sekitar 91 % pembangkit yang dimiliki oleh PLN membutuhkan energi fosil, mulai dari batubara, minyak bumi maupun gas alam (Wardiyono, 2014). Lebih detail mengenai implementasi peran serta PLN dalam Catur Dharma tersebut sekaligus sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi PLN dirinci sebagai berikut.


Gambar 3. Catur Dharma Energi

Catur Dharma 1: Tingkatkan Produksi Migas dan Catur Dharma 2: Kurangi Pemakaian dan Impor Bahan Bakar Minyak (BBM) 

Catur Dharma 1 dan 2 berkaitan erat dengan bahan bakar fosil. Selain sektor transportasi, pengguna BBM terbesar adalah sektor pembangkitan energi listrik. Di sini peran PLN adalah dalam mengurangi penggunaan BBM sebagai bahan bakar pembangkitan energi listrik.

Penggunaan Biodiesel sebagai Pengganti Solar pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 

Seperti diketahui banyak sekali pembangkit listrik milik PLN yang menggunakan bahan bakar solar untuk menggerakkan PLTD. Berdasarkan data yang dilansir oleh PLN, pembangkitan listrik yang berasal dari PLTD sekitar 12 % dari total pembangkitan listrik oleh PLN pada tahun 2013. Terlebih di daerah-daerah yang terletak jauh dari pulau-pulau besar, pembangkit listrik yang digunakan adalah PLTD. Keberadaan solar yang langka dan mahal merupakan kendala tersendiri bagi PLTD yang ada di daerah-daerah terpencil, semisal yang ada di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Utara. Beberapa PLTD tidak bisa beroperasi karena ketersediaan dan harga solar yang sangat mahal.

Biodiesel merupakan bahan bakar mesin diesel sebagai pengganti solar. Biodiesel dapat diproduksi dari berbagai macam limbah industri, misalnya limbah industri sawit maupun limbah industri gula yang banyak tersedia di Indonesia. Selain itu, masih banyak tersedia limbah pertanian yang dapat dijadikan sebagai bahan baku biodiesel. Apalagi biodiesel sudah digunakan sebagai campuran 10 % solar yang beredar di SPBU sebagai bahan bakar kendaraan motor bermesin diesel sesuai dengan mandatori yang dikeluarkan Kementerian ESDM. Hal ini diperkuat dengan langkah Pemerintah yang ingin menggalakkan produksi bioenergi sebagai garda terdepan dalam peningkatan penggunaan energi terbarukan. Sekitar 20 % komposisi energi terbarukan  berasal dari bioenergi, termasuk di dalamnya adalah biodiesel. Seperti diketahui bahwa target Pemerintah pada tahun 2025 mengenai bauran energi nasional, sebesar 23 % dari total penggunaan energi berasal dari energi terbarukan.

Catur Dharma 3: Dorong Masif Pengembangan EBT

Pembangunan Pembangkit Berbasis EBT (Energi Baru Terbarukan)

Pembangunan pembangkit berbasis EBT sangat cocok dibangun di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik Negara Indonesia yang memiliki berbagai macam potensi energi terbarukan. Sumber EBT tersebut antara lain adalah Panas Bumi, Energi Air, Bioenergi, Surya serta Energi Samudera. Kondisi geografis Indonesia yang berpulau-pulau tidak memungkinkan hanya membangun pembangkit di satu tempat saja karena terkendala masalah distribusi listrik. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan pembangkit di tempat-tempat tertentu yang tidak terjangkau jaringan distribusi. Karakter ini sangat cocok dengan keberadaan sumber energi terbarukan di Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis EBT sangat cocok untuk dibangun di daerah-daerah terpencil yang tidak terjangkau akses energi listrik.

Penawaran Paket Pelayanan Solar Home System (SHS) bagi Skala Rumah Tangga



Gambar 4. Solar Home System Berkapasitas 50 Wp untuk Penerangan di Padukuhan Danggolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul [Sumber: Dokumentasi Tim PKM M Perawatan Solar Home System UGM tahun 2013]

Sektor rumah tangga merupakan salah satu konsumen terbesar PLN. Berdasarkan Data Renstra BPPT (2010-2015) hampir 30,1 % dari kebutuhan energi nasional dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sehingga pemanfaatan energi terbarukan bagi rumah tangga merupakan sasaran yang sangat tepat. Untuk mengakomodir hal tersebut, PLN bisa memberikan alternatif bagi konsumen rumah tangga berupa paket pelayanan jasa pembangunan instalasi pembangkit energi terbarukan untuk sektor rumah tangga. Misalnya dengan menawarkan paket Solar Home System dengan berbagai kapasitas daya kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Di sini PLN berperan sebagai pihak yang membantu dalam mengadakan sekaligus berperan sebagai pemberi service jika dalam penggunaanya terjadi kerusakan. Perihal biaya pengadaan peralatan SHS, alangkah baiknya menjadi tanggung jawab konsumen. Upaya ini jika dapat diterapkan maka dapat membantu dalam pemasifan pengembangan EBT. Di sisi lain, inisiatif ini dapat mengurangi beban listrik yang harus ditanggung oleh PLN sekaligus sebagai langkah antisipasi jika PLN harus terpaksa melakukan pemadaman listrik, baik bergilir ataupun karena sebab lainnya.

Kerja Sama Independent Power Producer (IPP) dengan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) dalam Pengadaan Pembangkit Listrik Berbasis EBT di Daerah-Daerah Tertinggal

Salah satu kendala PLN dalam mengembangkan pembangkit yang berbasis EBT adalah harga investasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada saat ini memang biaya investasi EBT sangat mahal. Hal tersebut dikarenakan biaya balik modal yang yang relatif lama dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) maupun yang lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak dalam pengadaan pembangkit listrik berbasis EBT. Salah satu pihak yang dapat diajak kerja sama adalah Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Salah satu program kerja dari KPDT adalah membangun infrastruktur daerah tertinggal. Prioritas KPDT dalam pembangunan infrastruktur terletak pada pembangunan Listrik Masuk Desa, Pasar Desa, serta Jalan Desa. Program Listrik Masuk Desa fokus pada pembangunan listrik yang berbasis EBT, misalnya: mikrohidro, surya, bioenergi, angin maupun gelombang laut  (Taufiq, 2013).

KPDT dalam hal ini berperan sebagai IPP yang mengadakan pembangkit listrik. PLN dalam hal ini berperan sebagai operator sekaligus pendistribusi listrik kepada masyarakat. Dengan model kerjasama ini diharapkan dapat tercapai beberapa tujuan sekaligus, yaitu: tersalurnya listrik kepada masyarakat di daerah tertinggal, tercapainya target PLN dalam meningkatkan rasio elektrifikasi serta tersedianya operator Pembangkit Listrik EBT di daerah tertinggal. Untuk poin yang terakhir, seperti diketahui banyak sekali pembangkit listrik berbasis EBT yang tidak terawat yang disebabkan tidak adanya operator yang merawat serta mengoperasikan pembangkit listrik tersebut dengan baik.

Catur Dharma 4: Hemat Energi




Gambar 5. Kampanye Hemat Energi Listrik [Diakses dari: http://www.metrosiantar.com/pemadaman-bergilir-pelanggan-diminta-hemat-listrik/ ]


Catur Dharma ini berkaitan dengan gerakan konservasi energi. Pengertian konservasi di sini adalah penggunaan energi sesuai dengan kebutuhan. Catur Dharma ini sangat berkaitan dengan gagasan yang nantinya akan diaplikasikan kepada para konsumen.

Penghargaan Bagi Pelanggan yang Hemat Energi

Seperti yang selalu dislogankan oleh Kementerian ESDM bahwa menghemat 1 kWh itu lebih murah jika dibandingkan dengan membangun pembangkit baru berkapasitas yang sama, maka program kampanye untuk menghemat energi merupakan salah satu langkah praktis yang bisa ditempuh PLN dalam rangka menghindari terjadinya overload pemakain daya oleh konsumen. Untuk mendukung upaya tersebut, perlu diberikan stimulus kepada masyarakat, misalnya dengan cara memberikan penghargaan hemat energi kepada pelanggan. Penghargaan dapat diberikan kepada setiap jenis konsumen per beban daya di setiap masing-masing daerah pelayanan PLN. Penghargaan tersebut dapat diberikan setiap bulan. Tentunya hal ini sangat mudah dengan tersedianya data penggunaan beban listrik konsumen yang dimiliki PLN. Selanjutnya, penghargaan akan terasa lebih lengkap jika PLN memberikan hadiah kepada konsumen berupa peralatan elektronik yang berlabel hemat energi (lebih tepatnya penggantian peralatan elektronik biasa dengan peralatan elektronik hemat energi), misalnya berupa lampu hemat energi yang tersusun dari teknologi LED. Dengan pemberian hadiah ini diharapkan dapat memasyarakatkan penggunaan peralatan elektronik berkategori hemat energi.

Pemberian Hukuman Bagi Pelanggan yang Boros

Pemberian hukuman bagi pelanggan yang boros diterapkan agar konsumen memakai kebutuhan energinya sesuai dengan kebutuhan. Monitoring ini dapat diberlakukan dengan menetapkan standar tertentu berapa banyak jumlah kWh yang diperkenankan oleh PLN dalam waktu sebulan untuk setiap jenis konsumen per beban daya. Hukuman yang bisa diterapkan adalah pemutusan listrik selama satu hari atau beberapa hari, tergantung dari seberapa banyak jumlah kWh melebihi batas standar yang ditetapkan oleh PLN.

Sekian #IdeKUuntukPLN dipersembahkan lewat blog ini. Mari kita bantu PLN dalam mewujudkan Catur Dharma tersebut. Selamat ulang tahun yang ke 69 bagi Perusahaan Listrik Negera. Semoga semakin menyala di setiap jengkal tanah pertiwi, sehingga target 100% rasio elektrifikasi segera terpenuhi. 

Bertindak akan lebih bermanfaat dari pada terus menghujat, walaupun hanya sedikit.

Sleman, 17 Oktober 2014

Referensi

[1] Amna, Muhammad Abdi. 2013. Bangun Infrastruktur Daerah Tertinggal, KPDT Kucurkan Rp. 1 Triliun.  Diakses dari: http://industri.bisnis.com/read/20131211/45/191890/bangun-infrastruktur-daerah-tertinggal-kpdt-kucurkan-rp1-triliun- pada tanggal 17 Oktober 2014.

[2] Anonim. 2013. Fokus pada Pengembangan 69 Kabupaten. Diakses dari: http://news.detik.com/read/2013/07/30/000000/2317687/727/fokus-pada-pengentasan-69-kabupaten?nd771104bcj pada tanggal 17 Oktober 2014.

[3] Direktur Aneka EBT, Direktorat Jenderal EBTKE. 2014. Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan an Konservasi Energi. Disampaikan dalam Seminar Internasional dan Pameran Energi Terbarukan, Current Technology Development and Its Implementatation pada tanggal 14 Oktober 2014 di Fakultas Teknik UGM.

[4] Taufiq, Rohman. 2010. Kementrian Daerah Tertinggal Fokus Garap Listrik, Pasar dan Jalan. Diakses dari: http://www.kemenegpdt.go.id/berita/999/kementerian-daerah-tertinggal-fokus-garap-listrik-pasar-dan-jalan pada tanggal 17 Oktober 2014.

[5] Wardiyono, Suparje. 2014. RE Deployment Strategies to Lower Generation Cost in Isolated Grids. Disampaikan dalam Seminar Internasional dan Pameran Energi Terbarukan, Current Technology Development and Its Implementatation pada tanggal 14 Oktober 2014 di Fakultas Teknik UGM.