Tampilkan postingan dengan label Nasihat Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat Diri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

Debu-Debu Beterbangan

Debu-debu menjadi pengiring tingkah lakumu di masa-masa ini
Debu-debu menjadi teman setia di kala semangat tak terwujud
Debu-debu menjadi saksi prinsip-prinsip yang dipelajari
Hingga hujan sebagai peneduh lingkungan datang menghampiri
Di kala hujan datang memberi harapan tentang kesejukan
Di kala hujan menjadi titik balik dimana kamu harus segera menuju ke jalan kebenaran
Debu-debu menjadi saksi betapa syukur yang harus diucapkan karena bisa menjadi perantara nikmatnya datangnya hujan, di saat tertanda umurmu yang semakin berkurang
Sudah saatnya berubah, kemudian bertahan di jalan kebenaran


Selasa, 07 Januari 2014

Ngaca-Ngaca


Ngaca-Ngaca
Hatimu masih sangat lusuh, selusuh baju-baju kotormu
Niatmu masih berbelok-belok, seperti rambutmu yang bergelombang
Aura kebaikanmu sama sekali tidak sedap, sebau badanmu setelah capek main futsal
Timbang-timbang
Amalmu masih sangat ringan, seringan timbangan badanmu
Lihat-Lihat
Pemahamanmu masih kacau, sekacau rangkaian kata-kata dalam tulisan maupun ketikkanmu
Jangan hanya Ngaca
Waktunya berusaha, untuk mencuci baju, menyisir rambut bergelombangmu, membersihkan badanmu, menambah berat badanmu dan merapihkan kata-katamu.
Hidup bukan hanya untuk ngaca. Pantaskan diri.

Dia Bercerita

Sebetapa jerih payahnya dalam mengejar cita-citanya.
Dia bercerita
Sebetapa keras ujian hidup yang dia rasakan.
Dia bercerita
Untuk bertahan hidup, dia harus banting tulang ke sana ke mari di usia belianya.
Dia bercerita
Untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi ini, dia harus belajar keras, sekeras benda terkeras di dunia ini.
Dia bercerita
Untuk dapat memahami agama, dia harus rajin membaca, tiada bosan menghadiri majelis ilmu dan istiqomah dalam menjalani apa-apa yang sudah dipahaminya.
Dia bercerita
Untuk dapat hidup teratur, dia memulai dari hal-hal kecil yang biasanya terabaikan, menata rapih kamar misalnya.
Dia bercerita
Untuk dapat mempertahankan prinsipnya, dia tidak jenuh walaupun harus menangis setiap saat, menangis di dalam hati maupun sampai meneteskan air mata.
Dia bercerita
Untuk dapat mencapai cita-citanya, tidak hanya dengan duduk manis di situ saja.
Dia bercerita
Untuk dapat menyusun cita-citanya, dia tidak hanya memikirkan hanya dalam satu jam atau dua jam saja, lama, apalagi untuk mewujudkan cita-citanya.
Dia bercerita
Karena cerita tidak hanya bisa didengarkan saja tapi bisa diindera dengan mata, lihat alam semesta.
Belajarlah dari dia, lewat ceritanya baik lewat lisan, tulisan, maupun usahanya.
Hingga tiba suatu masa dimana kamu bisa bercerita seperti dia.

Rabu, 01 Januari 2014

Di Hamparan Ini aku Berada

Di Hamparan Ini aku Berada

Tempat dimana aku menghamparkan janji-janji yang tak tertepati
Dimensi dimana aku berdiri memegang amanah yang terlanjur dikhianati
Lokasi dimana terucap kata-kata yang menyayat hati
Koordinat dimana aku mengumbar perkataan yang selalu dibumbui
Hamparan dimana aku mengoleksi hutang yang tak segera dilunasi

Di hamparan ini,
Mudah sekali aku mengatakan cinta tanpa bisa membuktikannya
Gampang sekali aku bercita-cita tanpa ada perjuangan untuk mewujudkannya
Enak sekali hidupku ini

Di sini aku bersandar,
Melantunkan doa yang penuh dengan nafsu dunia
Beribadah tapi bernafaskan aktivitas belaka
Beribadah tapi masih asyik dengan nafsu-nafsu dunia

Di dunia aku terhampar,
Dimana aku masih diberi waktu untuk bernafas
Agar aku bisa menyiapkan bekal untuk mati

Ampuni aku ya Rabb