Senin, 18 Juli 2016

Diary of Patriot Energi (DoPE)


Diary of Patriot Energi (DoPE)



DoPE (Diary of Patriot Energi) adalah sebuah laman baru dari blog ini sebagai (bukan) catatan harian selama setahun ke depan. Kenapa DoPE adalah (bukan) sebuah catatan harian? Alasannya adalah karena bakal tidak setiap hari mendapatkan sinyal atau koneksi internet untuk saling berkabar dengannya mengupload tulisan dan dokumentasi ini. DoPE bukanlah kumpulan curahan hati yang bisa dijadikan referensi oleh orang-orang yang sedang menjalin kasih. Apalagi sebagai sebuah jurnal ilmiah yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam menulis skripsi. DoPE hanyalah sebuah kumpulan sandiwara karena hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara (Nicky Astria, 1996). Barangkali, nantinya, DoPE didominasi oleh guyonan yang mungkin tidak bisa bikin ketawa. Segenap kru DoPE (Zakariya, Arif, Bang Jek, Jeki, Jaka) berharap semoga catatan (bukan) harian ini selalu hadir ketika segenap kru mendapatkan koneksi internet.

Salam DoPE!

Kamis, 28 April 2016

Napak Tilas Patriot Energi: Menjelahi Negeri Demi Kemandirian Energi

Gambar 1. Logo Patriot Energi
Latar Belakang Patriot Energi
Indonesia memiliki kekayaan alam yang tak terkira banyaknya. Walaupun begitu, belum semua masyarakat bisa mendapatkan kesejahteraan atas kekayaan alam yang dimiliki. Terbukti, salah satu aspek yang belum bisa diakses secara merata di seluruh penjuru Nusantara adalah energi listrik. Beberapa daerah di Indonesia yang dikategorikan dalam daerah 3T (tertinggal, terpencil dan terluar) belum sepenuhnya mendapatkan akses energi listrik. Daerah-daerah tersebut belum sepenuhnya tersambung oleh jaringan eksisting PLN. Penyebab ketidakhadiran listrik di daerah-daerah tersebut adalah jarak distribusi listrik PLN yang sangat jauh serta kondisi geografis yang tidak memungkinkan.
Solusi yang bisa dihadirkan untuk mengatasi hal tersebut adalah pembangunan pembangkit listrik di daerah-daerah tersebut, seperti: Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ataupun teknologi energi terbarukan yang lainnya. Dengan kata lain, daerah-daerah tersebut harus memiliki pembangkit listrik tersendiri. Selanjutnya muncul tantangan baru, yaitu mengenai proses difusi teknologi PLTS atau teknologi energi terbarukan di masyarakat. Masyarakat harus dibina dan didampingi agar dapat mengelola secara mandiri teknologi energi terbarukan. Atas pertimbangan tersebut maka Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengadakan program yang bernama Patriot Energi.
Patriot Energi adalah sebuah gerakan yang mengirimkan lulusan-lulusan terbaik Indonesia untuk datang ke daerah-daerah tertinggal, terpencil, dan terluar Nusantara sebagai bagian dari masyarakat setempat. Seorang Patriot Energi memiliki tugas untuk menyadarkan dan membangun masyarakat melalui pembangunan dan pemanfaatan pembangkit energi terbarukan yang berkelanjutan. [1] Patriot yang telah ditempatkan di beberapa daerah berperan sebagai aktivator eksternal untuk menggerakan orang-orang kunci di dalam masyarakat agar masyarakat tersebut dapat mandiri dalam mengelola kebutuhan listriknya.

Garis Besar Program
       Untuk bergabung menjadi seorang Patriot Energi, ada tahapan-tahapan yang harus dilewati. Secara garis besar, tahapan-tahapan tersebut dibagi menjadi tiga sebagai berikut.
1. Proses seleksi
Proses seleksi dimulai dari pengiriman berkas, wawancara dan tes kesehatan. Pada tahap wawacara, para calon peserta diuji komitmen dan mentalnya melalui beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Pewawancara.
2.  Diklat
Terdapat 4 kompetensi khusus yang ditanamkan kepada para calon Patriot Energi: kompetensi kejuangan, kompetensi keteknikan, kompetensi sosial dan yang paling spesial adalah kompetensi keikhlasan. [2]
3. Penempatan
Pada saat penempatan, Patriot hidup bersama masyarakat dalam menciptakan, mengelola, dan memanfaatkan potensi alam setempat menjadi energi terbarukan. Patriot ditempatkan di desa terpencil, terluar, dan tertinggal selama satu tahun guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. [1] Perkiraan lokasi penempatan Patriot Energi angkatan kedua dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.


Gambar 2. Perkiraan Lokasi Penempatan Patriot Energi Angkatan 2 [1]

Kisah Patriot Energi Angkatan 1
Program Patriot Energi sudah berjalan semenjak tahun 2015. Program Patriot Energi angkatan pertama sudah ditarik dari lokasi penempatan pada pertengahan bulan Maret 2016. Sementara itu, Patriot Energi angkatan kedua direncanakan akan menjalani diklat pelatihan selama dua bulan mulai dari awal Mei sampai pertengahan Juli. Patriot Energi Angkatan kedua direncanakan akan ditempatkan pada pertengahan Juli 2016.
Pada Patriot Energi angkatan pertama terdapat 80 patriot yang ditempatkan ke 64 desa penempatan yang tersebar dari Sumatra sampai Papua. Lokasi-lokasi tersebut memiliki karakteristik masing-masing dengan segala tantangannya. Untuk menuju ke desa penempatan, ada yang harus melakukan perjalanan menggunakan pesawat perintis, ada juga yang menggunakan speed boat, ada juga yang harus menaiki kapal sungai bahkan dan lain sebagainya. Perjalanan terjal tersebut merupakan potret realita yang tidak bisa disembunyikan keberadaannya sebagai sisi lain wajah Indonesia.
Pada saat penempatan Patriot Energi angkatan pertama, belum semua PLTS di desa penempatan sudah terbangun. Di beberapa lokasi, PLTS masih dalam tahap pembangunan, bahkan ada yang belum dibangun sama sekali. Tentunya, kondisi tersebut memerlukan pendampingan yang berbeda-beda.

Penutup
       Melalui program ini diharapkan agar teknologi energi terbarukan yang dibangun di desa penempatan dapat dikelola dengan baik dan bijak oleh masyarakat setempat. Masyarakat setempat diharapkan mampu mengoperasikan, merawat bahkan mampu memperbaiki teknologi tersebut jika terdapat kerusakan. Teknologi energi terbarukan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat, mulai dari aspek pendidikan, kesehatan maupun sosial ekonomi. Selanjutnya, pemerataan energi di daerah 3T diharapkan mampu untuk membantu dalam mewujudkan sila ke 5 Pancasila, yaitu: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Salam Renewable Energy untuk Negeri !!!

Daftar Pustaka:
[1] Diakses dari: www.patriotenergi.com pada tanggal 28 April 2016.

Selasa, 19 April 2016

Penghargaan Efisiensi Energi Nasional (PEEN), sebuah Apresiasi Bagi Mereka yang Mengupayakan Efisiensi Energi


Gambar 1. Gedung Pusat Kementrian PU-PR, salah satu Pemenang PEEN tahun 2015 [sumber]

Efisiensi energi bisa diartikan sebagai penggunaan energi yang sesuai dengan kebutuhan tanpa mengurangi kualitas dari kebutuhan tersebut. Sebagai contoh: pada saat memilih di antara dua jenis lampu, pilihlah lampu dengan daya yang lebih rendah dengan kemampuan memancarkan cahaya yang sama (biasanya ditandai dengan satuan lumen). Efisiensi energi selain memberikan keuntungan kepada lingkungan, juga memberikan keuntungan kepada pengguna. Semakin efisien penggunaan alat yang membutuhkan energi, maka semakin murah biaya operasional alat tersebut. Efisiensi energi bisa diterapkan dalam semua kegiatan atau aktivitas manusia. Beberapa contohnya adalah dalam operasional bangunan maupun sebuah proses industri.

Penghargaan Efisiensi Energi Nasional atau yang biasa disingkat menjadi PEEN merupakan sebuah bentuk apresiasi bagi para para pengelola (pemangku kepentingan) di sektor bangunan/industri yang telah berhasil mengimplementasikan prinsip efisiensi energi serta mengapresiasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang telah berhasil menerapkan program-program penghematan energi dan air di unitnya masing-masing. PEEN merupakan penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Energi Baru terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Untuk memasyarakatan kegiatan PEEN ke 5 pada tahun 2016 ini,  Direktorat Konservasi Energi melaksanakan workshop pengenalan PEEN ke 5 pada tanggal 18 April 2016 di Hotel Inna Garuda Malioboro, Yogyakarta. PEEN ini memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang mengusahakan pelaksanaan prinsip efisiensi energi pada gedung maupun industrinya untuk dinilai. Tim Penilai PEEN terdiri dari Dirjen EBTKE, Kementerian PU-PR, BPPT, Universitas Indonesia, UNIDO, ASHRAE Indonesia, GBCI, PT EMI dan HAKE.




Gambar 2. Pelaksanaan Workshop PEEN ke 5 Tahun 2016  

PEEN terdiri dari tiga kategori yang dapat dilihat pada gambar tampilan salah satu slide yang dipresentasikan oleh Bapak Catur Wahyu Prasetyo dari Direktorat Konservasi Energi.


Gambar 3. Kategori-Kategori PEEN 

Masing-masing dari sub kategori yang ada di tiga kategori akan diambil juara 1, 2 dan 3. Selanjutnya, khusus untuk Pemenang PEEN 2016 Kategori A (Bangunan Gedung Hemat Energi) dan B (Manajemen Energi pada Industri dan Bangunan Gedung) yang memenuhi syarat dan kriteria ASEAN Energy Award (AEA) akan diajukan ke ajang tersebut pada tahun 2017. PEEN kategori A dan B merujuk pada perlombaan AEA. Oleh karena itu, pelaksanaan PEEN juga bertujuan untuk menjaring calon wakil di Indonesia untuk diikutsertakan dalam AEA.

Pada pelaksanaan workshop PEEN ini, Direktorat Konservasi Energi menghadirkan dua pemenang pada edisi sebelumnya, yaitu PT. Cheil Jedang Indonesia Pabrik Pasuruan sebagai pemenang ke dua Kategori Manajemen Energi untuk Sub Kategori Industri Besar serta Gedung Utama Kementerian PU-PR sebagai pemenang pertama Kategori Bangunan Gedung Hemat Energi Sub Kategori Gedung Hijau. Informasi lebih lengkap mengenai persyaratan dan kriteria penilaian dari masing-masing kategori dapat dilihat pada laman website berikut ini.


Gambar 4. Tampilan Website PEEN

Dengan terselanggaranya workshop PEEN ini diharapkan banyak pihak pengelola bangunan maupun industri yang tergerak untuk menerapkan prinsip efisiensi energi pada bangunan maupun industrinya. PEEN merupakan suatu upaya Pemerintah dalam memasyarakatkan kegiatan konservasi energi sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan energi nasional.

Jumat, 25 Maret 2016

Netizen Jogja Diskusi dengan MPR RI


Diskusi bertema kebangsaan mungkin menjadi sesuatu yang sudah sangat jarang ditayangkan melalui siaran televisi maupun diperdengarkan melalui radio. Diskusi di lingkungan akademis juga mungkin sudah jarang dilakukan kecuali dalam kelas Pancasila maupun Kewarganegaraan, kelas masing-masing selama dua SKS (sistem kredit semester) dalam satu semester. Di sisi lain, ‘kebangsaan’ perlu untuk dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah dinamika kehidupan modern seperti saat ini, baik bagi yang tinggal di dalam negeri maupun yang sedang melanglang buana di luar negeri. Untuk menyemarakkan kembali diskusi bertema ‘kebangsaan’, MPR RI menggandeng Komunitas Blogger Jogja menggelar acara “Netizen Jogja Ngobrol Bareng MPR RI”.


*informasi kegiatan ini saya dapatkan dari page Facebook: Komunitas Blogger Jogja

Rangkaian acara ini berlangsung di Hotel East Parc Yogyakarta dari tanggal 18-19 Maret 2016 dengan peserta dari berbagai daerah, yaitu: Yogyakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya dan lain sebagainya. Rangkaian acara ini merupakan wujud upaya dari MPR RI untuk memasyarakatkan wawasan kebangsaan. MPR RI sebagai lembaga yang bertugas sebagai Rumah Kebangsaan memiliki tugas yang sangat berat. Oleh karena itu, untuk mempermudah dalam menyebarluaskan wawasan kebangsaan yang termasuk di dalamnya adalah Empat Pilar MPR RI yang terdiri dari: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka MPR RI menggandeng komunitas netizen untuk menyebarluaskannya. Netizen diharapkan dapat membantu menyebarkan wawasan kebangsaan melalui internet melalui semua lini massa yang ada, seperti: Facebook, Twitter, Instagram maupun blog.
Kegiatan ini secara umum dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:

1. Diskusi Bersama Ketua MPR RI, Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M. dengan kupasan mengenai Empat Pilar MPR RI serta GBHN sebagai Penentu Arah Bangsa.


2. Ramah Tamah dengan Sekretaris Jenderal MPR RI, Ma’ruf Cahyono, S.H., M.H.



3. Diskusi dengan Pimpinan Badan Pengkajian T. B. Soenmandjaja dengan tema Menangkal Radikalisme dengan 4 Pilar MPR RI.



Sebagai catatan bahwa yang dimaksud dengan 4 Pilar adalah 4 Pilar MPR RI bukan 4 Pilar Kebangsaan. 4 Pilar MPR RI maksudnya adalah pilar-pilar yang harus disosialisasikan oleh MPR RI. Seperti diketahui bahwa istilah “4 Pilar Kebangsaan” menimbulkan kebingungan di masyarakat dikarenakan menempatkan Pancasila setara dengan UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Padahal Pancasila adalah dasar negara yang tentunya berbeda kedudukannya dengan yang lainnya. Akhirnya pada tanggal 3 April 2014, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan untuk menghapus istilah 4 pilar kebangsaan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang perubahan atas UU Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai politik.
[diakses dari: sini]

Agar acara ini dapat terkoordinir dan terdokumentasi dengan baik, maka ada masukan yang ingin disampaikan. Tim Sosialisasi Empat Pilar MPR RI diharapkan mampu mengintegrasikan semua postingan dari media social dengan baik melalui suatu website khusus dengan tema Empat Pilar MPR RI, misalnya dengan membuat domain dengan alamat www.4pilarmpr.go.id. Melalui domain tersebut diharapkan semua postingan dari para blogger maupun netizen dari blog masing-masing dapat terkoneksi dengan www.4pilarmpr.go.id. Hal tersebut berlaku juga untuk semua lini massa social media yang lainnya, misalnya melalui twitter. Sebaiknya terdapat akun tweet yang khusus berkaitan dengan empat pilar MPR RI, misalnya: @4pilarmpr. Oleh karena itu, semua tweet yang di-mention ke @4pilarmpr maupun dengan tagar khusus, misalnya: #4pilarmpr dapat di-retweet maupun di-favorit. Konsep integrasi tersebut diharapkan mampu menguatkan peran dunia maya dalam sosialisasi empat pilar MPR RI tersebut. Konsep integrasi ini dapat menjadi sebuah dokumentasi/arsip yang baik di dunia maya. Secara sederhana, konsep integrasi di dunia maya tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sosialisasi dengan basis dunia maya tidak dapat menyentuh semua kalangan, khususnya bagi mereka yang berada di daerah perbatasan dengan negara lain. Oleh karena itu, diharapkan MPR RI tidak lupa untuk menjaring ide dalam sosialisasi ke WNI yang berada di perbatasan. Pembangunan wawasan kebangsaan tidak hanya dimulai dari masyarakat di pulau-pulau utama saja. Kegiatan ini diharapkan juga mampu untuk dilaksanakan di daerah perbatasan, misalnya dengan membentuk kader-kader wawasan kebangsaan yang diterjunkan ke daerah perbatasan. Cara lain yang mungkin bisa ditempuh adalah dengan mengintegrasikan tugas MPR RI ini dengan program-program dari Pemerintah lainnya yang diterjunkan di daerah perbatasan, misalnya: Indonesia Mengajar, SM3T oleh Kemenristekdikti maupun Patriot Energi oleh Kemen ESDM. Integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan program bagi masing-masing institusi.

Minggu, 13 Maret 2016

Tarif Khusus Idle Seat Bagi yang Suka Naik Kereta Api

Pada saat ini, kereta api menjadi salah satu moda transportasi favorit untuk bepergian antardaerah. Kualitas pelayanan, kenyamanan, kemudahan dalam pemesanan tiket merupakan beberapa alasannya. Waktu tempuh beserta ‘disiplinnya’ kedatangan dan keberangkatan kereta api menjadi poin positif tersendiri. Oleh karena itu, tidak heran jika tiket kereta api untuk libur panjang maupun menyambut hari raya akan sangat laris manis. Bahkan pada saat 90 hari sebelum jadwal keberangkatan, awal waktu pemesanan tiket untuk menyambut datangnya libur panjang maupun libur hari raya, tiket kereta api untuk tujuan-tujuan tertentu sudah habis terjual. Beberapa tujuan tersebut adalah dari Jakarta dan Bandung ke daerah Jawa Tengah, DIY, maupun Jawa Timur serta arah sebaliknya ketika libur panjang selesai.

Dalam rangka meningkatkan pelayanannya, PT KAI selaku operator kereta api di Indonesia selalu melakukan berbagai inovasi. Tak bisa dipungkiri bahwa inovasi-inovasi yang dilakukan tentunya dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan sekaligus kemudahan dan kenyamanan bagi para pengguna jasa KAI. Seperti misalnya dalam penawaran idle seat. Idle seat adalah bangku kosong yang belum terpesan sampai pada dua jam sebelum keberangkatan kereta. Kita dapat memesan tiket kereta api pada beberapa relasi/rute dengan tarif khusus.

Cara Pemesanan dan Beberapa yang Melayani Idle Seat

Idle seat dapat dipesan dengan syarat:
1. Pastikan ada bangku kosong pada KA yang diinginkan (dapat dicek melalui website KAI)
2. Pastikan jadwal keberangkan KA
3. Tiket mulai dapat dipesan dua jam sebelum keberangkatan pada stasiun keberangkatan
4. Siapkan kartu identitas

Beberapa relasi atau rute yang melayani tarif khusus idle seat adalah sebagai berikut.
1. Purwokerto-Gombong-Kutoarjo-Yogyakarta-Solo*
2. Yogyakarta-Solo-Madiun*
*berlaku untuk arah sebaliknya

Daftar harga beserta KA yang menyediakan idle seat yang saya dapat dari Stasiun Gombong dapat dilihat pada gambar berikut.



Manfaat

Kebijakan ini merupakan kebijakan yang bisa dikatakan sama-sama menguntungkan bagi pengguna jasa PT KAI maupun bagi PT KAI itu sendiri. Bagi PT KAI, tentunya penjualan bangku-bangku kosong dapat mengoptimalkan kapasitas bangku yang ada. Bagi para pengguna jasa PT KAI, idle seat dapat menjadi salah satu alternatif dalam melakukan perjalanan. Misalnya, bagi yang ingin bepergian dari Yogyakarta menuju Solo, idle seat dapat menjadi pilihan di saat banyaknya calon pengguna KA Prameks pada akhir pekan. Seperti diketahui bahwa pada akhir pekan, banyak mahasiswa ataupun karyawan yang pulang ke daerah Solo dan sekitarnya mengakibatkan banyak yang tidak mendapatkan jatah tiket KA Prameks Yogyakarta-Solo. Hal tersebut juga berlaku bagi para calon pengguna jasa Prameks relasi Yogyakarta-Kutoarjo pada akhir pekan. Idle seat juga menjadi pilihan bagi para calon pengguna jasa yang ingin merasakan sensasi nyamannya menggunakan KA Eksekutif dengan harga yang lebih terjangkau, misalnya: KA Argo Wilis, Bima, Gajayana, Turangga dan Malabar relasi Yogyakarta-Madiun dengan harga tiket Rp. 80.000,00.

Saya pribadi yang biasa melakukan perjalanan dari Lempuyangan-Gombong atau sebaliknya. Saya biasa menggunakan KA Gajah Wong atau Bogowonto sebagai alternatif dengan harga tiket Rp. 60.000,00 sebagai alternatif dari KA Joglokerto.



Adakah yang tau relasi/rute lain yang melayani idle seat?

Semoga bermanfaat!!!